Membudayakan (kembali) Membaca

posted in: GPAN Regional Ponorogo | 0

Oleh : Luthfi Dyah Radintari

Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisis, dan menginterpretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan. Membaca dapat dilakukan dengan membaca nyaring maupun membaca di dalam hati. Membaca nyaring adalah membaca dengan suara keras dan dilakukan di depan umum. Sedangkan membaca di dalam hati adalah kegiatan membaca dengan seksama yang digunakan untuk memahami dan mengerti apa yang dimaksudkan oleh penulis.

Membaca sangat penting bagi kita. Melalui membaca, kita dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan baru. Selain itu, melalui membaca kita dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir. Namun kegiatan membaca ini belum dapat menarik perhatian dan kesadaran anak-anak hingga orang dewasa. Padahal banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat yang sadar akan pentingnya membaca. Misalkan membuka perpustakaan daerah, perpustakaan keliling yang biasa keliling di lingkungan sekolah, taman baca masyarakat, dan sebagainya. Tapi sangat disyangkan, upaya yang dilakukan belum memeroleh hasil yang memuaskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh UNESCO, minat membaca orang Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara maju dengan persentase 0,001%. Ini menunjukkan bahwa dari 1000 orang hanya 1 yang rajin membaca. Selain itu, berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Negara yang maju adalah negara yang para penduduknya memiliki kesadaran dalam membaca. Membaca dapat mengubah peradaban dari sebuah negara. Bahkan dalam negara maju, buku menjadi sahabat setia yang selalu di bawa kemana saja. Menunggu kereta mereka membaca, menunggu makanan atau minuman di sebuah restoran juga membaca, dan lain sebagainya. Orang Indonesia bukan orang yang tidak bisa membaca, mereka hanya tidak biasa untuk membaca.

Untuk itu, kita generasi muda harus dapat memberikan pemahaman, pengetahuan, atau kesadaran kepada anak, remaja, maupun orang dewasa akan pentingnya membaca bagi kehidupan kita. Tetapi, sebelum kita memotivasi kepada orang lain kita sendiri juga harus memiliki kecintaan atau minat  yang tinggi dalam membaca. Karena bagaimana orang akan percaya jika kita tidak melakukan. Hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran mereka antara lain adalah memberikan sosialisai kepada mereka tentang membaca. Mensosisialisakan ini dapat dilakukan kedalam sebuah kelompok atau perorangan. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan pembentukan komunitas baca. Tak perlu memiliki buku yang keren untuk membentuk komunitas baca, tetapi memiliki buku yang dapat menarik bagi orang yang tidak biasa membaca. Kedua kegiatan tadi dapat bekerjasama dengan pemerintah, sekolah, maupun perguruan tinggi agar tujuan yang akan kita capai dapat kita capai dengan hasil yang sesuai rencana.

Pada era globalisasi seperti ini, membaca tak melulu dengan buku. Membaca juga dapat dilakukan dengan smartphone kita, yaitu dengan menggunakan aplikasi e-book, google, dan sebagainya. Membaca disini bukan membaca pesan singkat, tetapi membaca tentang perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang apa saja. Membaca bukan urusan anak yang sekolah atau kuliah, sebagai generasi muda yang sadar akan pentingnya kegiatan membaca seharusnya kita memberikan suatu hal yang berbeda untuk dapat meningkatkan minat membaca pada masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

 

“Masih enggan membaca? Kalau kamu enggan membaca, terus kapan Indonesia akan maju? Kalau bukan kita yang bikin maju negara kita, lalu siapa lagi?” – radintari

 

Rujukan

Henry Guntur Tarigan (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa. Bandung: Angkasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *