KEHORMATAN MUSLIMAH DIBALIK KATA HIJAB

 

Muslimah produktif nan syar’i — KEHORMATAN MUSLIMAH DIBALIK HIJAB

 

 

Oleh : Eka Yunindah Tohiriyaningsih

       Sebuah kemegahan, kemodisan, dan berpakaian stylis menjadi kebutuhan utama setiap perempuan. Mengungkap cara berpakaian perempuan saat ini sudah dikatakan tak mengenal aurat lagi. Aurat adalah anggota tubuh perempuan yang diharamkan untuk dilihat atau dipegang dan seharusnya ditutup. Bagi seorang muslimah berpakaian yang syar’i (dibenarkan oleh Allah SWT) yaitu dengan cara BERHIJAB. Memaknai sebuah kata HIJAB, terkadang kita salah kaprah tentang arti sebuah nama tersebut. Kata HIJAB, secara umum para muslimah mengartikannya sekedar berkerudung atau trend saat ini sering disebut dengan HIJABERS, HIJABISTA, dan lain-lain. ‘A’isyah r.a meriwayatkan, suatu waktu Asma’ binti Abu Bakar datang menemui Rasulullah SAW, dengan pakaian tipis. Tatkala melihatnya. Rasulullah SAW memalingkan wajahnya dari Asma’, lalu bersabda : “Wahai Asma’! Sesungguhnya wanita apabila sudah baligh, tidak boleh ada anggota tubuhnya yang terlihat kecuali ini dan ini.” Beliau menunjuk ke muka dan telapak tangannya.’ (HR Abu Dawud).

       Teguran dari rasululllah telah menjadikan tamparan keras bagi setiap kaum muslimah supaya berhijab dengan benar. Beliau mengatakan yang boleh terlihat hanyalah muka dan telapak tangan. Tapi kenapa dengan berubahnya zaman sekarang ini, umatnya sudah lupa akan kewajiban sebagai muslimah. Berhias sesuka hati dan berpakaian tak sepantasnya dipakai, tanpa mereka sadari hal tersebut tak sesuai dengan syariat islam sebagai acuan hidupnya. Batasan aurat bagi muslimah pada saat ini tidak mencerminkan batasan yang dikehendaki-Nya (kewajiban-Nya). Penutup aurat bagi muslimah kecuali mahramnya yaitu berbalut hijab dari ubun-ubun kepala sampai mata kaki, tidak ketat dan tidak tipis (terawang), tidak wangi, dan bukan baju yang berbentuk baju laki-laki.

       Dikutip potongan ayat yang menyebutkan tentang seorang muslimah diwajibkan untuk menutup auratnya (berhijab) dari surat (QS An-Nur : 31), menyebutkan : “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS Al-Nur [24]: 31). Maha benar Allah dengan segala firmannya, semoga kita termasuk orang-orang beruntung yang mengerti akan kewajiban dan perintah-Nya.

       Secara sederhana berhijab bukan digolongkan seperti kerudung yang dibulat-bulatkan, dilipat-lipatkan atau di desain secara stylis sesuai trend saat ini, sehingga menyebabkan pesona anggun semua mata tertuju kepadanya. Sebagai muslimah, alangkah baiknya tidak memikat perhatian para kaum adam dengan cara berhias maupun cara berpakaian. Apabila semua itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan mereka (kaum adam) akan berpikiran buruk atau negatif, naudzubillah min dzalik. Secara normal, mereka (kaum adam) tak akan berpikiran aneh jika bukan dari pengaruh lawan bicaranya (kaum hawa).

       Hijabers yang sering khalayak kaum hawa katakan tak lebih gaya berkerudung yang bermacam-macam. Bermodal kerudung dengan berbagai jenis kain dan bentuk, ciput punuk unta, peniti, bros dan ciput ninja serta tutorial kreasi hijabers sebagai panduan cara berhijab. Semua itu SALAH. Mari kita simak arti kata HIJAB atau berpakaian yang syar’i (dibenarkan oleh ALLAH SWT). Kajian yang sering saya dengar dalam pengajian, hijab terbagi menjadi dua yaitu kerudung (khimar) dan Jilbab (gamis). Selain kedua tersebut, bukan lagi dikatakan hijab tetapi pakaian rumah (pakaian yang layak tuk dipandang mahramnya) atau kerudung biasa. Kerudung (khimar) adalah penutup kepala yang digunakan pada saat berada dirumah atau hendak berpergian. Batas penutup kepala, tampak belakang dari ubun-ubun kepala sampai dengan punggung dan tampak depan dari ubun-ubun kepala sampai dibawah dada kecuali pada muka tak wajib untuk ditutup. Ciri-ciri kerudung (khimar) yaitu tidak transparan (tipis), dan tidak pendek (diatas dada). Sedangkan Jilbab (gamis), bukan sejenis kerudung yang sering diinformasikan oleh media massa tetapi pakaian panjang menyerupai seluruh tubuh.

       Model seperti inilah yang benar dikatakan hijab dan benar kegunaannya, serta lebih disempurnakan lagi dengan khimar (kerudung) sebagai penutup kepala. Hijab yang syar’i sangatlah pantas untuk digunakan kaum muslimah. Kaum muslimah diperbolehkan berhias dan terlihat anggun hanya kepada mahramnya yang sah (suaminya). Banyaknya para muslimah tidak mengetahui tujuan mengapa mereka harus berhijab.

       Kaum hawa (muslimah) adalah kaum yang paling disempurnakan oleh Allah SWT. Seorang muslimah yang shalehah, sangatlah diimpikan oleh setiap kaum adam. Rasulullah mengajarkan kepada semua istrinya agar selalu menjaga auratnya dari setiap khalayak yang memandangnya dalam berinteraksi maupun bersilaturrahmi. Takut akan kemurkaan Allah SWT, rasulullah senantiasa menasehati para sahabatnya agar selalu taat akan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Dibalik keanggunan dalam berhijab, seorang muslimah memiliki nilai positif ketika sebelum dan setelah ia menikah.

       Sebelum menikah, keteguhan diri untuk menjaga kehormatannya dari semua pandangan yang ada. Dengan ridho Allah SWT, seorang muslimah yang shalehah kelak dapat mencium wanginya aroma syurga. Mensucikan diri dengan menjaga auratnya dari khalayak-khalayak yang memandangnya. Mengkhususon diri untuk calon suaminya yang di dambakan, karena semata-mata sebagai tanda bukti kasih sayangnya kepada Allah SWT. Tak hanya demikian, seorang muslimah bisa menjaga dirinya dari segala ancaman dan mara bahaya (tak mudah diremehkan). Setelah menikah, seorang muslimah dapat menyempurnakan ibadahnya menjadi seorang istri, dan disitulah gudang syurga bagi seorang istri untuk tunduk dan patuh kepada suaminya karena atas ridho-Nya. Dunia yang fana ini memiliki sejuta perhiasan yang sangat berharga, seindah-indahnya perhiasan adalah muslimah yang shalehah. Semoga kita termasuk perhiasan tersebut yang dimuliakan oleh ALLAH SWT, amin ya robbal’alamin.  Assalamu’alaikum wr.wb

.

.

2 Responses

  1. Agen Sabung Ayam

    Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Alloh lah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *