Wajah Gagap Literasi Indonesia

Ngomongin tentang literasi tidak lepas dari satu kegiatan yang sering kita temui, yaitu membaca. Tetapi jika ditanyakan apakah mayoritas masyarakat Indonesia memiliki hobi membaca? Ahh sepertinya tidak. Salah satu buktinya yaitu data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bahwa tingkat minat baca di Indonesia berada pada urutan 69 dari 127 negara. Indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, yang artinya hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang “masih mau” membaca buku secara serius. Jauh dari angka minat baca di negara-negara asia lain seperti di Jepang yang berada di angka 45 persen atau negara tetangga Singapura yang mencapai 55 persen. Miris memang, apalagi jika mengingat di institusi pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi memiliki perpustakaan yang pastinya tersedia banyak buku-buku yang bukan hanya bersifat mengedukasi tetapi juga menarik.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Kita tidak terbiasa. Minat baca itu bisa diibaratkan dengan makan buah maupun sayur. Jika hal itu tidak dibiasakan sejak dini, akan sulit untuk ditanamkan saat kita beranjak dewasa. Sekarang banyak kita temui, ketika orang disuruh untuk membaca, mayoritas banyak yang mengeluh “ Aduh malas banget membaca lagi, membaca lagi, membaca lagi”. Hanya sedikit orang yang memiliki minat untuk berkunjung ke perpustakaan atau toko buku untuk membeli buku. Jikapun ada yang berkunjung ke perpustakaan, itu hanya pada saat-saat tertentu seperti tugas dari guru maupun memanfaatkan fasilitas wifi. Miris memang.

Peningkatan teknologi di jaman sekarang seperti pisau bermata dua. Teknologi gadget, smartphone terutama berkembangnya media social memberikan kemudahan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang sebelumnya hanya bisa didapatkan dari buku,media cetak. Semua hal dan informasi sekarang bersifat “everything is digital”. Digitalisasi merambah ke semua aspek kehidupan manusia seperti politik, ekonomi,sosial budaya. Salah satunya adalah literasi. Orang-orang sekarang lebih mudah mendapatkan sesuatu yang dicari. Munculnya fenomena e-book dan e-library adalah salah satu kemajuan dari digitalisasi literasi. Tetapi sisi negatifnya, munculnya perkembangan teknologi juga salah satu penawar penyebab rendahnya kesadaran membaca seseorang. Orang-orang lebih sering dan betah berlama-lama menghabiskan waktu untuk chatting dan ngobrol melalui gadget daripada menghabiskan waktu luang untuk membaca e-book maupun mencari informasi bersifat edukatif.  

Mengingat pentingnya membaca buku dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi kaum milenial, minat baca untuk para pemuda wajib ditumbuhkan sedari dini. Hal ini sangat penting karena kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan, intelektual, dan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dari informasi lisan maupun tulisan, dan semua itu bisa didapatkan salah satunya dari kebiasaan membaca. Budaya literasi sangat berperan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia yang cerdas yang nantinya akan membentuk dan meningkatkan kualitas bangsa secara keseluruhan.

Jika menginginkan perubahan dan kemajuan bangsa Indonesia, bukan hanya dibutuhkan peraturan dari pemerintah tetapi juga kesadaran dan peran masyarakat terutama kaum pemuda milenial ikut melakukan perubahan. Mengutip dari perkataan Bung Hatta Sang Proklamator Bang Indonesia “ Aku rela dipenjara dengan buku, karena dengan buku aku bebas”.

Mari membaca, Ayo Membaca.

Penulis : Al (GPAN Mojokerto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *