Tradisi Mudik dan Pembangunan Infrastruktur di Indonesia

posted in: Blog, Esai, GPAN Regional Malang | 0

Tradisi Mudik dan Pembangunan Infastruktur di Indonesia

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Mudik dapat diartikan menjadi dua makna, yaitu “(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)” dan “pulang ke kampung halaman”. Di Indonesia, istilah mudik berkaitan erat dengan definisi kedua pada KBBI yaitu masyarakat yang pulang ke kampong halamannya.  Mudik menjadi salah satu aktivitas yang banyak dilakukan terutama menjelang hari raya besar seperti Idul Fitri. Namun, seperti apakah sejarah tradisi ini bermula di Indonesia ? ini merupakan hal menarik untuk diketahui.

Tradisi mudik sebenarnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah berrjalan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dahulu, perantau pulang ke kampung halamannya masing-masing untuk membersihkan makan para leluhurnya. Selain itu, kepercayaan yang berkembang saat itu juga mereka meminta keselamatan dalam mencari rezeki.

Pada era kolonial Belanda tradisi mudik berkaitan erat dengan adanya urbanisasi di suatu wilayah, dimana saat itu Ibukota pemerintahan berada di Kota Batavia, yang menjadi salah satu magnet urbanisasi. sejak akhir abad ke 17, Batavia yang sudah berisi banyak etnis menjadi salah satu kota asal daerah mudiknya warga-warga ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Istilah mudik menjadi lebih dikenal pada era 1970 an dimana Jakarta mengalami perkembangan yang sangat pesat saat pemerintah sedang menggalakan pembangunan dengan program Pembangunan Lima Tahun (PELITA). Selepas era reformasi pada tahun 2000 an, banyak dilakukan otonomi daerah yang mengakibatkan semakin tersebarnya tradisi mudik yang tidak hanya berpusat di Jakarta dan Pulau Jawa tetapi juga di beberapa daerah seperti Medan, Palembang, Padang, Makasar serta Kota-kota lainnya.

Selain perkembanganya, hal menarik yang berkaitan dengan tradisi mudik adalah keterkaitannya dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya masyarakat yang melakukan urbanisasi, kapasitas infrastruktur yang memadai menjadi salah satu kewajiban yang harus diselesaikan pemerintah. Saat ini, pemerintah  banyak menggalakan kembali pembangunan infrastruktur terutama jalan tol yang diharapkan dapat memperlancar transportasi mudik yang digunakan oleh masyarakat. Kelancaran arus transportasi yang digunakan pada mudik kali ini juga dapat digunakan menjadi indikator keberhasilan pembangunan infrastruktur serta pemerataan pembangunan yang harus terus dilakukan. Pemerataan pembangunan pun diharapkan dapat membantu kelancaran arus mudik tidak hanya di di Pulau Jawa tetapi di luar Pulau Jawa sehingga aktivitas mudik dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan dan dapat dinikmati untuk merayakan hari raya bersama keluarga.

Billy Anugrah

Tim-MDG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber referensi :

http://baltyra.com/2015/07/10/tradisi-mudik-lebaran/

http://www.tribunnews.com/ramadan/2017/06/13/tradisi-mudik-asal-usul-kata-dan-sejarahnya-di-indonesia

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150713152001-20-66107/sejarah-mudik-batavia-dan-kereta-api

http://www.infoyunik.com/2015/07/inilah-awal-mula-tradisi-mudik-lebaran.html

Sumber gambar :

nasional.republika.co.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *