Sepenggal Cerita dari Seorang Surveyor

posted in: Esai, GPAN Regional Jogja | 0

Oleh: Wilda Fathoni

hutan-berau

Romansa Konservasi

Apa jawaban kebanyakan anak-anak saat ditanya jenis pekerjaan yang mereka inginkan saat dewasa kelak? Jawaban klise yang pasti kudengar adalah dokter, pilot, polisi, pengusaha, artis dan dokter. Sangat jarang atau bahkan tidak ada seorang pun yang menyebut dengan lantang ingin jadi seorang konservator atau penjaga alam. Jangankan untuk berkeinginan, makna penggiat konservasi saja mereka tidak tahu.

Realitas seperti ini tentunya tidak terlepas dari minimnya kesadaran orang tua dan masyarakat dalam menanamkan kebiasaan menjaga lingkungan alam, sekaligus rendahnya pemahaman mereka tentang pekerjaan di bidang konservasi alam. Kebanyakan orang berpikir para konservator hanyalah sekumpulan orang yang hobinya keluar-masuk hutan, dan berkutat dengan tumbuhan dan hewan yang hampir punah. Salah satu tugas konservator sebenarnya adalah mengawal proses pengusulan pegunungan karst sebagai situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Aktivitas ini bukan hanya terfokus pada aspek fisik hutan itu sendiri, tetapi berhubungan pula dengan masyarakat dan pemerintah.

Masyarakat harus terlibat secara aktif dalam upaya konservasi hutan agar dapat mengelola hutan, menjaga hutan, dan sekaligus mendapatkkan manfaat nyata dari hutan. Peran masyarakat dalam konservasi hutan sangat penting. Upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan harus terus ditumbuhkan. Masyarakat selama ini terbiasa mengambil hasil hutan dengan bebas. Jika dibatasi dan dilarang, pasti akan timbul masalah. Mengubah kebiasaan itu tidak mudah, apalagi untuk memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat tentang hutan lindung, tentu butuh waktu dan kesabaran.

Masyarakat yang berpastisipasi dalam pengembangan hutan lindung adalah masyarakat adat Dayak. Mayoritas masyarakat Dayak hidup mengandalkan hutan. Segala aktivitas kehidupan masyarakat yang dulunya berhubungan dengan hutan kini mulai berubah. Ciri khas identitas masyarakat Dayak mulai menghilang. Konservasi memunculkan kesadaran masyarakat untuk hidup dan bergantung dengan hutan sembari menjaga hutan. Romantisme inilah yang ingin dikembangkan sehingga dalam masyarakat dapat tumbuh kebanggaan sebagai seorang Dayak.

Namun, manfaat konservasi tidak berhenti pada rasa bangga saja. Perlu adanya peningkatan ekonomi, pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan. Berbicara tentang konservasi hutan tidak lepas dari peran pihak swasta yang mendapatkan izin pemerintah untuk memanfaatkan areal hutan. Perusahaan-perusahaan yang memilik hak konsesi perlu diawasi dengan baik untuk memastikan proses produksi yang dilakukan benar-benar ramah lingkungan serta memastikan areal lahan yang akan ditebang sehingga pelepasan karbon dapat di minimalisir.

Bumi tanpa hutan

Apa jadinya bumi tanpa hutan? Bila hutan musnah, apakah masih ada kehidupan di bumi? Mungkinkah manusia, berbagai makhluk hidup lain, dan kehidupan lain mampu hidup tanpa keberadaan hijaunya hutan? Pentingkah keberadaan sebatang pohon dan berhektar-hektar area hutan?

danau
Sungai Merabu

Pohon. Makhluk hidup ciptaan Tuhan yang tumbuh menjulang ke langit serta mengakar menghujam kuat ke tanah, memiliki daun yang rimbun, memberikan kehidupan bagi makhluk bumi lainnya. Makhluk hebat ini mampu menyerap gas karbon dan menyimpannya dari ranting hingga akar. Sebuah pohon dewasa mampu menyerap gas CO2 hingga 48 ton tiap tahun, menyimpan satu ton gas CO2 hingga usia pohon mencapai 40 tahun, dan menghasilkan oksigen untuk 4 orang. Coba saja hitung banyak emisi karbon yang dapat tersimpan pada jutaan hektar hutan yang berumur ratusan tahun? Pasti banyak sekali manfaatnya.

Keunikan dari pohon yaitu, gas CO2 yang diserap dan tersimpan akan terlepas ke atmosfer saat pohon ditebang. Pelepasan gas CO2 ini yang berdampak pada meningkatnya emisi karbon. Sehingga, pohon dapat menjadi solusi tetapi juga dapat menjadi penyebab pemanasan global dan perubahan iklim yang dipicu emisi gas CO2. Coba bayangkan berapa juta ton karbon yang terlepas ke atmosfer saat jutaan hektar hutan Indonesia yang menyerap dan menyimpan karbon sejak ribuan tahun lalu ditebang untuk perkebunan? Tentunya tidak perlu bertanya mengapa suhu di bumi semakin panas.

Indonesia sangat beruntung dikaruniai hutan luas yang menjadi paru-paru dunia. Hutan yang luasnya jutaan hektar menutupi 52,3 persen luas daratan Indonesia dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan hutan terluas ke-9 di dunia. Sementara itu, hutan tropis Indonesia merupakan yang terluas ke-3 di dunia setelah Brazil dan Kongo. Kawasan hutan ini menyimpan kekayaan hayati yang tidak ternilai.

Bukit Karst Merabu
Bukit Karst Merabu

Menurut Pak Hadi, salah satu porter kami di Kawasan Karst Batu Gergaji, sekarang hutan telah berubah sangat drastis. Lelaki yang sering keluar-masuk hutan sejak tahun 1997 ini, bercerita bahwa hutan tropis di Kalimantan dulu sangat bagus. Pohon-pohon tak terhitung banyaknya. Meranti merah, meranti putih, gaharu, ulin dan banyak lagi jenis pohon  lainnya dengan diameter bervariasi dapat ditemui dengan mudah. “Dulu sebelum banyak logging, saat saya sering masuk hutan dan berbaring di pondokan saat malam hari, dari kejauhan sering terdengar bunyi menggelegar. Itu suara pohon-pohon tumbang. Mungkin karena lapuk. Namun sekarang, suara pohon tumbang seperti itu tidak lagi terdengar. Hutan tidak seperti dulu. Pohon tua di hutan dulu tumbang secara alami, tapi sekarang tumbang karena mesin gergaji,”cerita Pak Hadi.

Deforestasi hutan Indonesia utamanya disebabkan kebakaran hutan, penyalahgunaan HPH, alih fungsi hutan, dan pemekaran wilayah. Rusaknya hutan-hutan Indonesia paling besar disebabkan kegiatan industri, terutama industri kayu yang menyalahgunakan izin HPH, yang mengarah pada pembalakan liar. Penebangan hutan semakin tak terkendali saat pemerintah membuat program Hutan Tanaman Industri (HTI). Jutaan hektar hutan dibabat habis untuk dijadikan areal HTI. Namun, sebagian besar diantaranya tidak pernah ditanami.

“Puncak kerusakan hutan terjadi sejak tumbangnya Orde Baru tahun 1999,” ujar Pak Hadi.

Alih fungsi lahan hutan untuk perkebunan, pertambangan, dan pemukiman mengakibatkan semakin berkurangnya luas hutan Indonesia. Indonesia kini merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.“Booming-nya industri sawit membutuhkan lahan luas. Hingga Juni 2010, beberapa juta hektar telah dibabat, dikeringkan, dan dibakar untuk ditanami kelapa sawit,” terang Pak Hadi. Ekspansi perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama kerusakan hutan di Kalimantan karena dilakukan tanpa memerhatikan analisis dampak lingkungan. Rusaknya hutan bukan hanya berdampak pada kegagalan fungsi hutan sebagai pengatur iklim dengan menampung CO2 dan menghasilkan oksigen, tetapi juga menghilangkan sumber air dan memusnahkan rumah bagi spesies flora dan fauna yang tak ternilai harganya. Selain itu juga mengancam perekonomian dan mengikis kebudayaan orang-orang Dayak yang bergantung pada hutan.

Bagi masyarakat Dayak, hutan adalah dunia, sumber utama dan awal mula kehidupan. Hutan merupakan sumber utama kehidupan ekonomi, tempat berladang dan berburu. Sumber kehidupan berbudaya, tempat bahan ramuan herbal, alat rumah tangga, dan perlengkapan untuk upacara adat dan budaya. Bagi mereka hutan adalah rimba warisan nenek moyang untuk dijaga dan dinikmati hasilnya secara berkelanjutan. Namun era modernisasi mengusir masyarakat Dayak dari hutan. Bermodalkan izin HPH, para pengusaha menggusur masyarakat Dayak dari hutan adat, warisan nenek moyang mereka. Menurutku, hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tetapi juga nilai budaya yang tinggi. Dalam hutan pasti ada situs-situs budaya yang dikeramatkan. Hutan lenyap, Dayakpun pasti lenyap, karena seluruh aktivitas masyarakat berhubungan dengan hutan dan terdapat jenis pohon yang memiliki fungsi penting bagi mereka. Contohnya pohon upas. Getahnya digunakan untuk racun pada sumpit yang dipakai berburu. Racun itu sangat keras dan bisa bertahan hingga sebulan. Jika kayu itu hilang, maka racun sumpit untuk berburu akan punah pula.

Sungai Merabu
Sungai Merabu

Rusaknya hutan membuat masyarakat Dayak susah berburu seperti payau, babi hutan dan binatang buruan lainnya. Masyarakat kesulitan mendapatkan kayu ulin yang menjadi bahan dasar lungun. Lungun adalah tempat menyimpan mayat dan semua harta almarhum semasa hidup sebelum dikubur dalam tanah. Apabila hutan gundul dan kayu sulit ditemukan, budaya Dayak pun lenyap.

Hutan mempengaruhi aspek manusia. Hutan sangat penting bukan hanya bagi orang-orang rimba seperti masyarakat Dayak, tetapi seluruh makhluk hidup di bumi.

Tanpa hutan, kita tidak punya sumber oksigen.

Tanpa hutan, makhluk hidup tidak memiliki bahan makanan.

Tanpa hutan, makhluk hidup tidak memiliki sumber air.

Tanpa hutan, makhluk hidup menghadapi bencana sepanjang tahun.

Mari selamatkan hutan alam yang tersisa, karena bumi tanpa hutan sama artinya dengan bumi tanpa kehidupan.

Leave a Reply