Sepenggal Cerita dari Penuntut Ilmu

posted in: Esai, GPAN Regional Lamongan | 0

Oleh: Fachrie

 

Mentari pagi berada pada seperempat belahan bumi timur. Sinarnya selalu menghangatkan tubuh kala berangkat menuntut ilmu. Cahaya pagi yang turut menembus kaca helm sampai ke kaca mata membuat diriku sedikit nyengir setiap kali bertatapan dengannya. Aku selalu berharap jika setiap pagi adalah pagi yang indah untuk diriku, agar bisa ku sebarkan nikmat bahagia ini pada anak-anak, beserta orang-orang terkasih di sekelilingku.

Yaa… saat ini aku memang sedang belajar menjadi seorang pendidik, mendidik anak muda belia, yang mengingatkan sedikit memori tentang masa laluku. Masa belia, atau biasa dikenal dengan sebutan anak usia dini. Anak usia dini ialah yang memiliki usia ± 0-6 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana setiap hari berteman dengan mereka. Mulai dari mengajak bermain, belajar, sampai jadi obyek permainannya, duuhh. Akan tetapi, semua itu kuserahkan pada Sang Maha Cipta. Insya Allah mereka adalah agent of change negara Indonesia kelak di zamannya.

Banyak sekali pelajaran yang bisa kuambil di tempat ini. Tentang keluarga, anak didik, bahkan partner kerja. Suatu ketika aku dikejutkan oleh anak didikku yang mengatakan bahwa ayahnya adalah orang jahat. Tanpa panjang pikir aku mengutarakan pertanyaan kepadanya, “siapa yang jahat?”, lantas ia menjawab, “ayahku jahat, nggak pernah pulang”. Pertama, pelajaran tentang keluarga yang aku dapatkan. Setelah mendapat berbagai informasi ternyata keluarga anak tersebut dalam masalah. Kondisi keluarga yang mengharuskan anak tersebut ikut merasakan dampaknya. Terlihat dari sikap anak yang mulai sedikit berubah serta perkembangan belajarnya yang menurun. So… meskipun penulis atau pembaca belum punya keluarga sendiri, tapi cintai dan sayangilah keluargamu, bagaimanapun kekurangan dan kelebihannya agar tercipta keharmonisan dalam rumah tangga, ciyeee.

Pelajaran kedua, jujur, saat memandang jelas raut wajah anak kecil, ada sedikit ketenangan dalam diri. Walaupun ada sedikit rasa jengkel dan geram, tapi semua itu telah tertutup oleh sifatnya yang… aaah susah dijelaskan. Rasakan sendiri saja. Suatu ketika, seorang anak mengadu tentang kekesalan terhadap rekan bermainnya. Awalnya ada sedikit kecurigaan padaku tentang hal tersebut. Tapi benar nyatanya. Anak kecil jika bercerita selalu menyampaikan wujud kebenaran dengan gaya khas mereka. Akhirnya kecurigaanku terbuang mengikuti alur cerita anak tersebut. Anak kecil selalu mengatakan kejujuran dalam setiap hal. Dari kecil mereka dibekali kejujuran, lantas kenapa setelah tumbuh dewasa nilai-nilai tersebut luntur, seolah tidak ada sisa sedikitpun? Semoga mereka adalah generasi-generasi yang jujur.

Ketiga, tentang tantangan zaman. Karena tantangan zaman seorang pendidik adalah semakin banyaknya tuntutan dari para orang tua. Seperti, anak belum bisa membaca, tuntutan ke guru. Anak belum bisa menulis, tuntutan ke guru. Anak belum bisa berhitung, tuntutan ke guru, dan beribu tuntutan lain yang sekian hari menjadi tantangan sekaligus momok bagi seorang pendidik.

Jika kau ingin menjadi seorang pendidik, jangan pernah lelah untuk terus belajar, belajar dan belajar, kapanpun dan dimanapun kamu berada. Dan jadikan setiap orang adalah guru, dan semua tempat adalah ladang ilmu.

 

 

Lamongan, 12 Maret 2017, 16:28

.
.
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *