Sepasang Mas Bro

OLEH : MUHAMMAD NUR ZIYAULHAQ

Saat ruangan itu mempertemukan kita, yang kusadari kita hanya berteman. Dan kurasa kau pun begitu. Taka da yang istimewa dengan kita, bahkan bertegur sapapun kita jarang, hanya seperlunya. Terus begitu, hingga sadar tidak sadar ada yang beda dengan mu, kala pagi menjelang siang itu. Aku tak menghiraukannya, karena aku tau kau hanya bercanda. Namun suatu malam feelingku mengatakan kau memang benar-benar berbeda, mungkin saat jemarimu mencoba menghubungiku. Awalnya, responku masih biasa saja, toh kita hanya berteman bukan? Wajar kalau kau berusaha mengakarabkan diri.

Tunggu dulu,, kalau itu upayamu mengakrabkan diri, kenapa aku merasa perhatianmu semuanya hampir tertumpu padaku. Anehnya aku tak menolak, padahal kau ataupun aku pasti sama-sama sadar telah ada yang memiliki, samapai setitik rasa itu menyadarkanku. Ada yang menggelitik hatiku saat bola mata kita beradu. Kulihat matamu menyimpan makna isyarat yang tak terdefinisi. Aku yakan itu akan merasakannya. “Mas Bro” katamu. Kau mengawali panggilan itu. Dan ini adalah cerita sepasang Mas Bro yang mungkin sengaja tuhan ciptakan untuk melengkapi kekurangan dan mengisi kekosongan ruangan itu.

“Alfa”. Aku mengagetkannya suatu paagi menjelang siang. Dia yang sedang asyik dengan gadgetnya langsung menoleh ke arahku, menampakan senyum so maskulinnya. Dialah Alfa sahabatku, sahabat karibku, dan sahabat hatiku. Entah sejak kapan aku memupuk rasa itu, yang jelas kisah ini bermula ketika bangku sekolahku berwarna putih dan abu.

“Iya Al, ada apa?”

“Kok gitu sih, aku itu nyapa Mas Bro” memukul lengannya sambil mengngerucutkan bibir. Lantas aku beranjak meninggalkan Alfa yang kembali asyik dengan gadgetnya. Aku mengumpat dalam hati, kukira dia akan menyusulku. Yang ada dia malah membiarkanku berjalan sendirian melewati koridor menuju kantin sekolah. Nn….

“hhh.. giliran lagi chat sama pacar lupa sama aku” aku mendengus kesal. Di hidup Alfa entah diurutan keberapa aku, kadang menomor satukanku seolah hanya aku tumpuannya, tapi tak jarang dia mengabaikanku, tidak memperdulikanku seperti tak pernah membutuhkanku. Kadang aku merasa aku dan Alfa itu berteman, kadang lebih dari teman, dan kadang bukan siapa-siapa. Berbeda dengan sikapku pada Alfa, sejak cerita kita bermula dari lembaran pertama hingga lembaran-lembaran selanjutnya, titik pusat hatiku hanya pada Alfa seorang. Walau hubungan asmaraku dengan yang lain harus pupus dan perhatian Alfa masih terbagi dengan wanita lain, yaitu kekasihnya sendiri. Dan lagi, ada satu hal yang harus ku korbankan dengan kedekatanku dan Alfa. Mereka adalah sahabat-sahabatku. Aku gak bisa bercerita tentang Alfa sepenuhnya pada mereka, karena mereka –Afia-Niva-Keila- kurang resfect ke Alfa, katanya. Jadi mereka selalu memilih jaga jarak saat aku menghabiskan waktu dengan Alfa.

Bel pulang berbunyi, seperti biasa Alfa selalu mendahuluiku. Karena menunggu kekasihnya yang berada di kelas atas. Nyesek? Iya dong kalu ditanya nyesek, pasti jawabnya nyesek banget. Coba kalau dikelas dan dirumah ngerayunya, perhatiannya, cinta dan kasih sayangnya seakan semua hanya untukku. Herannya, aku tetap menerima dan memaafkan sikap angkuhnya. Mungkin tak akan berubah jika taka da yang berani mengusik hatiku.

Kalau aku pulang bareng Alfa gak akan peluhku bercucuran sederas ini. Karena aku tak pernah kehabisan akal mencairkan suasana agar tidak beku. Maklum, jarak dari rumah ke sekolah walaupun gak sejauh Alfa. Cahaya matahari langsung menyengat tubuhku, tapi beda ceritanya kalau aku ditemani Alfa, peluhuku terganti oleh rasa bahagia berada disampingnya dan menikmati tawa Alfa disetiap detiknya. Dia tak pernah mengeluh ketika mendengar ocehan-ocehanku, keluhanku, bahkan teguranku saat dia besikap yang tidak kusukai.Alfa tetap sabar menghadapi sikapku yang kerap kali nampak seperti anak-anak. Namun, aku benci jika sikap sensitifnya muncul. Karena tak jarang ia membenahi dan membentakku kalau aku berbuat salah, padahal tidak seberapa.

“drrtt…” Handphone ku bergetar, deretan nama tertera di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan Alfa. Ia mengirimku message, katanya ia akan megajakku nonton ke bioskop.

Baru juga pulang, udah mau berangkat lagi. Untungnya yang di rumah tidak banyak berkomentar asalkan waktu istirahatku jangan terganggu. Aku mengiakan saja, terserah nanati pulangnya jam berapa juga. Seperti biasa, kalau masalah waktu Alfa tak pernah memakai jam karet, dia selalu tepat waktu, Aku yang tengah menunggu langsung berlari dan naik ke ninja merahnya. Wangi parfumnya ketika itu juga masuk ke indra penciumanku. Taka da percakapan diantara kami, hanya helaan nafas yang sesekali terdengar, karena terkalahkan oleh suara kendaraan yang melaju tepat disekeliling aku dan alfa. Hingga tak kusadari aku dan Alfa telah sampai di tempat yang dituju.

“Mas Bro…. laper.. makan dulu  yuk..” ajakku pada Alfa sambil memegang perutku yang keroncongan.

“eh.. belum makan??…” Tanya Alfa.

“Yaelah.. mas bro.. baru juga pulang dari sekolah, kapan makannya,” cepetan ah laper banget nih.” Aku menarik tangan Alfa. Alfa menurut saja tanpa banyak cakap. Pun setelah memesan hanya aku yang makan, dia cukup menonton aku bak anak yang tak makan tujuh hari tujuh malam.

“Mas Bro aku putus ama Riana>” katanya tiba-tiba.

Aku tersedak, ada rasa kaget dan bahagia menyelinap. Bukan berarti aku tak ingin Alfa bahagia, aku hanya ingin aku yang setiap waktu bahagiakan dan menikmati apa saja yang selama ini Alfa kasih ke aku.

“Kenapa Mas Bro?? kok bisa??” tanyaku hati-hati.

“gak jodoh kali. Lagian aku udah gak nyaman sama dia, aku nyamannya sama kamu.” Kata Alfa kemudian. Ada kebahagiaan tersendiri saat Alfa mengatakan itu, mungkin karena Alfa tengah sendiri sekarang. Aku pura-pura tak mengiraukan perkatan Alfa, yang padahal dalam hati kebahagiaanya tiada tara. Jauh-jauh aku menunggu hari ini, hari ketika taka da wanita lain di hidupnya selain aku. Aku terlalu lelah membujuk hatiku untuk tetap tegar. Tidak salah bukan ketika aku mengharapkan kebahagiaan itu. Ada saatnya seseoraang peka terhadap orang-orang disekitarnya., begitu pula dengan Alfa. Mungkin dia sadar, sejak pertama mengenalnya aku teramat mengaguminya, hingga kekaguman itu berubah menjadi setitik rasa sayang. Dan akupun mulai merasa aku tam ingin kehilangannya.

Aku masih mengejanya sebagai yang terindah. Hari ini, pengakuannya, genggaman tangannya, serta pelukan hangatnya tak akan pernah ku lupa walau bumi  berhenti berputar. Aku mencintai Alfa sebagaimana aku mencintai senja, karena kehadirannya kerap kali membuatki bahagia dan terpana. Ini adalah tahun keduaku menghabiskan waktu dengan Alfa, putih abu-abu saksinya. Harapanku aku ingin tahun-tahun selanjutnya juga ada alfa disisiku.”Alfa Ardiansyah you are my future” kataku dalam hati.

Drrtt…Drrtt.. Handphone ku kembali bergetar, lagi-lagi ada message yang masuk. AKu tau itu pasti dari Alfa, siapa lagi yang mengirimku message malam-malam begini.

To: Alni

From: Alfa

Selamat malam Mas Bro

Good Night Alni.. Miss You..

Ckk… pemborosan kata, ada saja tingkah Alfa yang membuat bibirku tertarik ke samping. Orang bilang aku dan Alfa itu serasi, katanya. Mungkin karena seringnya aku bersama Alfa, serta adanya kesamaan antara namaku dan namanya. Alfa dan Alni, sepasang Mas bro.

Ini hari minggu, untuk itu aku ingin bermals-malasan di kamar, mengingat weekend ini taka da jadwal keluar rumah.”Sedang apa Alfa” tanyaku dalamh hati, sehari tak bertemu juga serasa setahun lamanya.”Al..Al..” terdengar suara mama mengetuk pintu kamarku. “Iya.. ada apa ma?” tanyaku. “Ada temen kamu tuh dibawah, katanya mau ngajak kamu jogging” tutur mama. “Masa sih ma? Iya bentar dulu, suruh tunggu” pintaku pada mama. “jogging”, tumben pagi-pagi gini ada yang ngajak aku jogging. Alvia, Niva, atau Keila paling anti sama yang namanya jogging, apalagi Alga palingan dia masih tidur. Tidak ada dalam bucket listnya jogging orang badannya kurus gitu. Lantas aku menuruni anak tangga dengan keadaan muka yang masih kusut. Allku tercengang saat mendapati Alfa tengah duduk manis di ruang tamu dengan setelan olahraga lengkap dengan celana training plus sepatunya. Awalnya aku ragu menghampiri Alfa, mengingat keadaanku ibarat gelandangan, rambut yang diiikat seadanya serta tubuh yang sama sekali belum terkena air. Maklum sedang kedatangan penyakit wanita. Aku hendak kembali ke kamar, berniat sedikit mencucui muka, namun sayangnya hentakan kakiku disadari oleh Alfa, sehingga ia memangggilku. “Al…” panggil Alfa “eh…iya fa” jawanku seraya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“mau jogging fa ???” upss.. pertanyaan ku konyol. Sudah jelas setelan yang dipakai Alfa menunjukan bahwa ia akan berlari pagi bukan balet. Dengan sedikit menahan malu aku menghampiri Alfa yang kelihatannya tertawa melihat keadaanku. “cepet mandi kita lari pagi, perawaqn itu gak boleh malas” tukas Alfa. “gak mau ah dingin tau mending tidur lagi”. Aku mengangkat kakiku keatas sofa dan memeluk lututku. Masih kurasakan cuaca dingin yang menerobos setiap lekuk tubuhku. “ayolah Al, sekali saja agar badanmu agak bongsoran dikit” bujuk Alfa. Kemudian Alfa mendorong tubuhku agar beranjak ke kamar mandi. Apa boleh buat, kalau sudah begini aku tak akan bisa menolak. Jadilah pagi itu aku dan Alfa lari pagi ke Taman Kota. Seperti biasa, kalau hari libur taman kota penuh dengan orang yang berlari pagi, para pedagang, atau yang hanya sekedar jalan-jalan, dan berseppeda. Aku menggosok-gosok tanganku sambil sesekali meniupnya pelan. Sebelum Alfa meraih tanganku dan menggenggamnya, aku hanya tersenyum kikuk merasakan hangatnya genggaman tangan Alfa. “Aku mencintaimu Mas Bro”. Batinku tegas. Perjalanan ini semakin membuatku yakin bahwa aku membutuhkan Alfa untuk mengisi kekosongan hari-hariku. Hatiku tak akan pernah berdusta tentang nyatanya sayangku pada Alfa.

Matahari semakin tinggi terlihat, dinginnya tubuh tlah terganti oleh cucuran keringat, karena sengatan cahaya metahari. Berkali-kali aku membenarkan poni yang menutupi keningku. “Al kamu gak papa?” Tanya Alfa khawatir seraya mengusap keringat yang membasahi poniku. Tuh kan penyakit Alfa kumat lagi, Alfa gak peka. Udah keringetan begini masih ajah nanya. Dasar

“gak peka .. salah kamu Mas Bro, ngajak aku jogging segala, udah ah ayo pulang, betein kamu”. Jawabku kesal. Ya benar-benar kesal aku paling anti lari pagi, apalagi aku sedang datang bulan bawaannya malas dan sensitifan mulu. Aku berlalu meninggalkan Alfa yang masih terpaku mendengar kata-kataku.

“Mas Bro gak pulang? Yaudah aku pulang sendirian” aku mendelik kesal, Alfa menyusulku saat aku hendak memberhentikan angkot yang berlalu lalang. Jadilah Aku dan Alfa pulang naik angkot. Taka da pembicaraan sepatah kata pun, kesalku pada Alfa hari ini bukan main. Dan ini pertama kali aku marah pada Alfa sepanjang perjalananku dengannya.

To: Alni

From: Alfa

Mas bro, maaf untuk hari ini

Janji gak akan terulang lagi

I love you mas bro

Messages dari Alfa membuatku tersenyum lagi walau ada sedikit kekesalan yang tersisa setidaknya, dia berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Namu sayang, saldo di handphone ku kosong, jadi dengan berat hati aku tak bisa membalas messages darinya. Alfa… Alfa… dulu kamu itu ibarat bunglon, bisa berubah tanpa diduga dan disadari saat bersamaku, kamu begitu menunjukan bahwa aku terlihat sangat berarti di hidupmu, dan saat bersama wanita itu tak jarang kamu berubah menjadi angkuh seperti kita tak saling mengenal. Hhhh…” batinku.

Semakin lama, semakin banyak celah yang dibuka oleh kedekatan aku dan Alfa. Kebersamaan lagi-lagi menebalkan album kehidupan kami. Kehidupan sepasang Mas bro.

Aku berjalan melewati koridor sekolah sendirian. Tanpa ditamani Alfa ataupun mereka. Penyakit Alfa kelihatannya kumat, paling rajin kalau absen di kelas. Sedangkan merka, entahlah, sejak kelasku pindah aku jarang menghabiskan waktu bersama mereka. Bahkan aku lupa, kapan terakhir kali aku tertawa lepas dengan Avia, Niva, ataupun Keyla. Saat Alfa disisiku aku seperti lupa pada mereka bertiga. Tiga gadis cantik yang tak pernah kehabisan akal menghadirkan kekonyolan-kekonyolannya agar aku tetap tersenyum.

“hei Al..” aku tersentak. Baru saja hatiku bertanda aku merindukan mereka. Aku tertegun “patah hati” siapa??” tanyaku heran.

“Wah..Wah.. so, tegar Niv kayanya tukas Afia

“Iya nih” timpal Niva seraya menyenggol bahuku.

“ehh, serius Niv, aku gak tau, emang siapan yang patah hati? Aku fine-fine aja ko”

“beneran gak tau kalu Alfa jadian sama Arina?” Tanya Keyla.

Tiba-tiba langkahku tehenti saat itu juga. Alfa? Tidak?

“Alfa mana maksudmu ??” tanyaku syok.

“ya Alfa Mas bro mu lah. Emangnya ada berapa Alfa disini? Cuma dia doang kan? Masa kamu kudet sih, kamu yang tiap hari bareng Alfa, emang dia dia gak cerita?” Tanya keyla lagi.

“Iya ih, kamu jadi kudet sekarang, udah seminggu yang lalu kali, omong-omong si Arina juga yang katanya penyebab endingnya hubungan Alfa sama si Riana. Parah banget kan” tambah Niva.

Alfa? Arina? Batinku berdebat. Aku seperti disambar petir saking kagetnya. Bagaimana mungkin aku kudet dengan kabar ini. Padahal tiap hari bahkan sebelum Alfa putus dengan Riana pun, dia selalu bersamaku. Lantas, apa maksudnya semua ini??

Aku berlalu meninggalkan mereka. Air mata yang sejak tadi menggenang tak dapat lagi kubendung. Aku menyandarkan didri di dinding toilet. Aku fikir, Alfa berubah saat mengenalku. Sayang, dugaanku selama ini mungkin salah. Aku terlalu asyik dengan kebahagiaan yang Alfa berikan, yang sebenarnya secara tidak langsung ada luka yang tertulis didalamnya. Tangisku semakin pecah, membayangkan betapa banyak waktu yang ku habiskan dengan Alfa di masa ini dan betapa tertutupnya mata hatiku sehingga aku tak dapat melihat kebohongan Alfa sedikitpun. Aku terlalu hanyut dengan sandiwaranya. Selama kurang lebih dua tahun ini, dia hanya menganggapku sebagai sehabat. “Sepasang Mas Bro” aku tak ingin lagi mendengarnya aku muak, sangat muak..

Konsentrasi belajar tak kudapatkan hari ini, semua orang dikelasku keheranan melihat mataku yang pagi-pagi udah sembab dan bengkak akibat menangis. Aku pun hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Hatiku terisis penuh oleh sesak dan setumpuk amarah yang belum terluapkan. Ditambah lagi pengkuan Nova teman sekelasku semakin membuat ubun-ubun kusemakin terbakar, bahwa gossip itu benar adanya. Hanya saja, sekarang aku jadi terkesan cuek, jadinya kudet, katanya.

Berulang kali Alfa menghubungiku, namun aku tak jua merespon.” Semuanya sudah berakhir Mas Bro.” batinku. Rupanya dia belum sadar dengan kebohongannya. Dasar bodoh. Dia tidak sadar bahwa setiap kebohongan pasti akan terbongkar. Tidak sadar pula bahwa tuhan itu maha adil, bukan? Ini adalah akhir dari kisah sepasang Mas Bro. Ya.. detik ini aku mengakhirinya. Untuk apa mengharapkan sesuatu yang bukan hak kita. Kebahagiaan Alfa tidak ada padaku, aku hanya sahabatnya, itu yang perlu aku ingat.

Aku menatap bingkai foto di meja belajarku dengan nanar. Terutlis jelas di foto itu “Sepasang Mas Bro”. Air mataku meleleh lagi. Alfa, sepasang Mas Bro, esok aku tak akan menemukannya. Aku meraihnya dan menyimpannya dibawah kasur. “Selamat tinggal Mas Bro” batinku sesak.

Selesai mandi Alfa menelponku, katanya dia sudah ada di teras rumahku Lima menit yang lalu. Awalnya aku ragu untuk menemuinya, namun berhubung aku masih punya hati, terpaksa kutemui dia yang lebih dulu bercengkrama dengan mama. Alfa dan Mama menoleh saat mendengar langkah kakiku. Kemudian mama meninggalkanku dan Alfa yang masih terkunci diam-diam.

“Aku tau semuanya mas bro”. kataku mengawali pembicaraan seraya duduk disampingnya.

“Maksudmu mas bro?” tanyanya so keheranan.

“Aku tau mas bro punya Arina sekarang, dan mas bro gak pernah sayang sama aku” Jawabku parau. Kulihat alfa tersentak mendengar jawabku ini, semakin membuktikan bahwa berita itu benar adanya.

“Aku sayang kamu mas bro”. Alfa menoleh ke arahku.

“Iya, tapi sayangmu hanya sebatas teman, atau lebihnya sahabat”. Aku menaikkan alis.

“Enggak Mas Bro mungkin kamu gak sadar”

“Oh ya.. Lantas apa maksudmu menjalin hubungan dengan Arina? Kamu munafik mas bro, “apa kamu masih bisa menyangkalnya?” bentakku. Aku dan Alfa diam sejenak. Perasaan bingung menyergap, tak ingin sebenarnya aku mengakhiri cerita ini. Sayangnya, ada terselip luka sekarang. Dan salahnya, aku terlalu percaya diri memupuk rasa ini, hingga tak kuperhitungkan jika ada air mata yang akan mengalir deras karena kenyataan ini.

“Maaf kalau aku begitu mudahnya mengatakan ini, tapi jujur aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku mencintai kalian berdua”. Aku tersentak mendengarnya. Bagaimana mungkin Alfa mencintai dua wanita sekaligus di masa yang sama. Aku semakin bingung sekaligus dibuat marah dibuatnya.

“Fa.. cinta itu bukan kue yang seenaknnya kamu bagi-bagi, kamu yang memulai, kamu yang membuat semua orang tahu kisah kita, sekarang kamu juga yang seolah mengakhiri. Hati kecilmu mengakuinya, sadrlah !!” bentakku lagi membuat Alfa tercengang.

“Sekali lagi, maafkan aku Al. Masih berlaku kan mafku” pintanya memelas, sambil memegang tanganku, namun aku segera menepisnya.

“Ya, tapi tidak sekarang. Dan aku minta, kamu lupakan aku Fa. Lupakan kalau kita sepasang Mas bro, aku kecewa sama kamu Fa” seraya meninggalkan Alfa. Dengan sigap “Alfa mencekal tanganku. “Bukan berarti persahabatan kita juga berubah Ni” tukas Alfa.

“Apa kamu gak sadar Fa, sejak kita sering menghabiskan waktu bersama, sejak kita menjadi sepasang Mas Bro, sejak ada kata sahabat diantara kita, sebenarnya aku teramat mencintaimu Fa. Aku selalu berusaha menjadi satu-satunya yang bisa bahagiakan mu. Sayangnya kamu gak pernah peka Fa, terlebih sekarang kamu memilih Arina kan? Dan hanya ketidakpastian yang aku dapatkan sekarang, sudah Fa, jauhi aku” kataku panjang lebar. Perlahan bahuku bergetar karena aku menahan isak tangis, sedetik kemudian aku berlari meninggalkan Alfa yang masih diam mematung. Kutumpahkan semua tangisku diatas bantal. Ini adalah pertama kalinya aku menangis karena alfa. “Maafkan aku Fa” batinku. Hatiku sesak membayangkan hari esok yang akan kulewati tanpa Alfa, tanpa tawanya,juga tanpa gurauannya yang khas. Aku pasti merindukan yang akan hilang itu.

Hari pertama tanpa Alfa, semua mata hampir tertuju padaku. Karena biasanya aku dan Alfa ibarat ban dan sepeda motor. Tiba-tiba tanpa konflik aku seperti tidak mengenal alfa, mungkin itu fikir mereka. Ini bukan keinginan hatiku kalau harus aku jujur, keadaan yang memaksaku untuk mengambil keputusan ini. Harga diri kalau aku menjadi benalu hubungan Alfa dan Arina. Padahal baru sehari saja tanpa alfa, aku mulai merindukannya.

Pemandangan yang akan menjadi kebiasaan mataku mulai menyapa, kemesraan alfa dan Arina. Hatiku belum menerima semua itu keliatannya, terbukti dengan adanya garis lurus yang basah di pipiku. Aku mengelus dada seakan berkata, “Sudah taka da yang perlu di sesali”, namun, sesak tetap terasa, walaupun aku tetap berusaha memalingkan muka. Aku beranjak dari tempat menyesakkan ini, dan berusaha menyeka air mata yang tiba-tiba berubah menjadi deras. Hingga tak kusadari ada yang mengikuti ku dari belakang.

“Mas Bro”. Langkahku terhenti, aku tau itu Alfa, “ada apa lagi Fa?” tanyaku heran.

“Aku tau kamu sakit kan, kamu gak bahagia dengan semua ini?” terka Alfa. “Tepat sekali Fa”, lebih sakit liat kamu adu mesra dengan wanita itu” kataku dalam hati.

“Siapa bilang, aku bahagia ko, memangnya kamu doang temen aku”, bantahku

“Kamu menangis karena aku, maaf aku Ni”, katanya parau seraya mengelus lembut pipiku. Aku menurunkan tangan Alfa dan kembali memalingkan muka.

“Kamu benar Fa, aku terluka karena sikapmu. Kenapa kamu gak peka dari kemarin-kemarin, saat aku masih ingin bersamamu. Salah mu, selalu membiarkanku tinggal dalam sebuah ketidak pastian. Diamku menyimpan makna Fa, tapi bukan berarti aku harus mendefinisikannya, layaknya ahli filsafat. Jangan anggap aku seperti cerita Cinderella yang “happy ever after” saat kudengar kabar kisahmu dengan yang lain Fa. Untuk sekarang dan mungkin untuk seterusnya aku tak akan menarik kembali ucapanku, bagaimanapun keadaannya. “Kataku pilu. Alfa tak sedikitpun berkutik. Dia hanya menatap kosong saat aku berbicara panjang lebar. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Yang jelas, aku tau kebersamaan ini tak akan terulang lagi. Sesalku, tak sempat meminta maaf untuk helai waktu yang sempat ia sediakan untukku. Meski aku pun tau mungkin dia tidak mungkin membutuhkan permintaan maaf dariku. Saling menyadari kesalahan saja sudah lebih dari cukup.

Semua benar-benar berlalu semenjak hari itu. Kisah sepasang Mas Bro berakhir di bulan Mei, tak ada yang tersisa sedikitpun. Namun, aku selalu berharap bagaimanapun keadaan kita nantinya, masih atau tidaknya saling berbagi tawa, akhir bahagia adalah milik kita berdua, milik sepasang Mas bro. Alfa dan Alni.

Leave a Reply