Ruang Keramat Itu Bernama Perpustakaan

Anak-anak dari lingkungan sekitar berkunjung ke TBM Cerdas

Literasi menandakan kecakapan dalam membaca dan menulis atau melek aksara. Detik ini, literasi mengantongi berbagai macam arti. Literasi dapat bermakna melek teknologi, pikiran, politik, kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Meminjam perkataan Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult bahwa literasi mutakhir dianggap sebagai kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan maslahat.

Selalu berorientasi pada maslahat umat mengingatkan saya kepada salah seorang pejuang literasi di Pekalongan. Pak Nasrudin Latif atau akrab disapa Pak Latif, selain disibukkan dengan aktivitas mengajar dan mengabdikan dirinya kepada Negara, Ia juga meluangkan waktunya untuk berjuang meningkatkan pemahaman literasi di lingkungannya.

Tanpa tahu apa dan siapa yang akan kita temui, suatu hari Tuhan mengirim saya menuju ke kediaman Pak Latif yang juga sekaligus dijadikan sebagai Taman Baca bagi masyarakat. Pertama menginjakkan kaki melewati pintu masuk, mata saya langsung menyergap puluhan buku yang terpampang di rak-rak buku, lemari kaca, dan meja kayu berwarna coklat tua. Setelah menangkap itu semua, otak saya meralat perhitungan buku yang baru saja saya lihat. Saya keliru bahwa itu bukan puluhan buku, atau ratusan buku, namun ribuan buku.

Berawal dari kesukaannya membaca, Latif memiliki berbagai koleksi buku yang lambat laun membuat setiap sudut ruang di rumahnya nampak seperti perpustakaan. Setiap buku ditata sedemikian rupa, ada yang menghadap secara horizontal maupun vertikal. Berawal dari perpustakaan pribadinya pada tahun 2003 inilah kemudian Latif mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) “Cerdas” di tahun 2005 yang beralamatkan di Kelurahan Kuripan Kertoharjo Gang 14 Nomor 19.

“Kami namai taman baca cerdas itu ada asal muasalnya. Mengapa saya pilih cerdas. Kalau cerdas itu tidak hanya ruang lingkup akademik tapi kita bisa cerdas menyikapi bagaimana kehidupan yang sekarang ataupun yang akan datang,” tutur Latif yang juga menjabat sebagai Pengurus Syuriah Nadhlatul Ulama di Pekalongan.

TBM Cerdas ini membuka pelayanan membaca di tempat dan juga peminjaman buku setiap hari pada pukul 15.30 hingga 20.30 WIB. Biasanya Taman Baca ini selalu diramaikan anak-anak ketika hari Jum’at sore, karena pada waktu itulah mayoritas anak-anak desa mendapatkan libur sekolah TPQ. Tidak hanya anak-anak sekitar, rupanya TBM Cerdas ini rutin mendapat kunjungan dari berbagai siswa dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA sederajat dan bahkan mahasiswa dari kampus Universitas Pekalongan dan Institut Agama Islam Negeri Pekalongan.

Minimnya budaya membaca masyarakat Indonesia sangat perlu diperhatikan. Problem tersebut tentu tidak bisa dianggap enteng. Pasalnya besarnya rasa cinta membaca sama dengan besarnya kemajuan suatu bangsa. Sehingga Latif berinisiatif untuk menarik anak muda terutama di area Pekalongan untuk bersama-sama menjaga dan meningkatkan budaya ‘cinta membaca’ melalui TBM Cerdas.

Tidak hanya menyediakan fasilitas ribuan buku dengan berbagai macam genre, Latif juga menyediakan fasilitas permainan bagi anak-anak _seperti ayunan_ di depan rumahnya agar anak-anak betah dan sering berkunjung ke TBM Cerdas. Merapikan rumah dengan menciptakan taman dengan pohon dan tanaman hias yang cantik membuat pengunjung terasa ingin berlama-lama membaca. Semua itu dilakukan tanpa adanya dukungan finansial dari pihak manapun. Kecuali jika terdapat buku yang dirasa tidak tersedia, Nasrudin Latif _yang juga bekerja sama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan_ meminta pihak Dinarpus untuk mengirim buku yang diminta ke alamat TBM Cerdas. Hal tersebut dilakukan Nasrudin Latif semata-mata karena percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

“Sering seringlah meluangkan waktu berkunjung ke Perpustakaan, Ia adalah ruang keramat. Pengelola harus sadar ini dan tak boleh kecil hati jika pengunjung tak seramai pentas musik. Perpustakaan adalah anak kandung peradaban. Maka walau sepi, Perpustakaan harus indah dan bermartabat. Ia adalah ruang pembelajaran kontemplasi bagi anak-anak muda calon pemimpin,” tutup Latif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *