[ Review Buku Leila S Chudori – Laut Bercerita ] Perjuangan, Pengorbanan, Kehilangan, Cinta dan Harapan.

Unik, pahit dan sakit, kesan pertama ku setelah membaca buku Leila S Chudori berjudul Laut Bercerita. Penulis kelahiran Jakarta sekitar 57 tahun yang lalu ini memang terkenal dengan karya karya yang berlatar belakang sejarah. Setelah sebelumnya menulis buku Pulang yang berlatar belakang sejarah Indonesia usai peristiwa Gerakan 30 September 1965, kali ini di buku Laut Bercerita bercerita tentang mereka, terutama aktivis dan mahasiswa, yang hilang dan yang kembali pada masa reformasi tahun 1998.

            Berkisah tentang perjuangan para mahasiswa dan aktivis yang menuntut hak-hak kemanusiaan kepada pemerintah Orde Baru. Di bawah tekanan dan bahaya, mereka pantang menyerah demi Indonesia yang lebih baik. Meski pada akhirnya mereka harus bersembunyi dalam pelarian dan akhirnya tertangkap lalu disiksa. Disekap di ruang bawah tanah, tidak tahu kapan mereka akan pulang. Beberapa dari mereka kembali menghirup udara bebas namun memiliki luka yang tak akan pernah sembuh.

            Dalam buku ini, Leila S Chudori mengundang kita untuk menyelami kasus penghilangan orang secara paksa. Buku ini terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama mengambil sudut pandang seorang mahasiswa aktivis bernama Laut, menceritakan bagaimana Laut dan kawan-kawannya menyusun rencana, berpindah-pindah dalam pelarian, hingga tertangkap oleh pasukan rahasia.

            Sosok Laut bersama teman-teman aktivisnya yang berusaha membela rakyat dari keotoriteran pemerintah kala itu. Tentu bukan menjadi hal mudah bagi mereka. Mereka harus bergerak secara sembunyi-sembunyi, hidup sebagai buronan pemerintah dan hidup berpindah-pindah hingga yang paling buruk, penghilangan secara paksa. Fakta yang belum banyak diketahui oleh mahasiswa seperti saya, karena dalam pembelajaran di sekolah umum biasa sama sekali tidak dituliskan bahwa telah menghilang 13 aktivis kampus pada tahun 1998. Melalui buku Laut bercerita kita bisa mengetahui hal itu.

Kontras, bagian kedua dikisahkan oleh Asmara, adik Laut. Bagian kedua mewakili perasaan keluarga korban penghilangan paksa, bagaimana pencarian mereka terhadap kerabat mereka yang tak pernah kembali. Juga tentang perasaan para korban selamat—bagaimana terpenjaranya mereka atas kejadian tersebut. Pada bagian ini cerita begitu memilukan dan menyayat hati. Pembaca benar-benar seperti merasakan kehilangan juga. Saya yakin pada bagian ini tidak ada pembaca yang tidak ikut tersayat hatinya. Bahkan saya sendiri sampai berurai air mata ketika membacanya.

Saya merasakan banyak emosi selama membaca Laut Bercerita. Sedih, kecewa, dan marah. Para tokoh-tokoh aktivis dalam buku ini terasa begitu nyata. Saya merasakan tekad dan harapan mereka demi Indonesia, persahabatan mereka yang begitu kuat, serta rasa sakit dan kekosongan mereka saat ditangkap dan disiksa. Tak lupa juga nasib keluarga yang anaknya tidak kembali, sungguh menyayat hati bagaimana di beberapa tahun awal mereka masih percaya bahwa anak mereka akan pulang.

            Novel ini cocok dibaca untuk orang-orang yang ingin mendalami tema penghilangan orang secara paksa melalui aras psikologi korban atau bagi orang-orang yang mencari bacaan yang dapat membawa suasana. Pembaca akan terus terseret dalam permainan emosi karakter-karakternya hingga akhir cerita. Kisah dalam buku ini merupakan sepenggal dari kisah kita bersama, menjadi bagian yang tak pernah terjelaskan dan tak akan terlupakan.

            Terakhir, teman teman yang ingin mendalami buku ini juga bisa menonton film pendek documenter berjudul sama yang dibintangi Reza Rahardian dan Ayushita. Film ini juga cukup menarik dan menguras emosi dan perasaan.

            Ditulis oleh Al, seorang musafir dari GPAN Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *