[Review Buku] Genta Kiswara: Nelangsa; Ruang Sendiri Untuk Mengenang Yang Telah Pergi

Ketika itu saya sedang bersantai di depan kamar kos. Saya pegang posel dan menyelami instagram, tiba-tiba muncul di beranda salah satu quotes yang menarik perhatian. Bunyinya seperti ini.

Akhirnya beberapa asmara pekerja seni pun menuai tragis. Ternyata, menjadi puitis, romantis, dan melankolis tidak benar benar disukai oleh lawan jenis. Meraka akan tetap buta oleh perfeksionis, materialistis, dan hedonis.

Saya tertarik dengan quotes tersebut, mungkin karena terkesan relate dengan asmara saya saat itu yang sedang kempas-kempis. Bisa dikatakan datang dan pergi seenaknya. Kemudian tanpa panjang lebar, saya mulai menelusuri siapa yang mengikrarkan kata-kata tersebut. Akhirnya saya temukan bahwa penggalan kata itu berasal dari salah satu penulis dari kota Padang, yaitu Genta Kiswara.

Dari situlah saya mulai memutuskan berkelana di dunia maya untuk mengetahui profil penulis ini, yang ternyata cukup aktif di Instagram dengan basis massa yang cukup banyak. Quotes-quotesnya selalu memadukan tema cinta, patah hati, dan kehilangan. Tema yang menarik perhatian para anak muda. Dan setelah ditelusuri lagi, ternyata quotes yang menarik perhatian tadi adalah salah satu penggalan dari karya bukunya yaitu NELANGSA yang akan saya review dibawah ini.

Berbicara Nelangsa, Menyoal Cinta, Patah Hati, dan Kehilangan.

Buku yang berjudul Nelangsa ini merupakan karya ke-3 dari Genta Kiswara. Lelaki berdarah Minang yang lahir tanggal 27 Mei. Buku ini merupakan buku ke-3 Genta setelah sebelumnya sukses dengan buku “Pada Sebuah Kata Pergi”  dan  “Evolusi Rindu”. Buku yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama pada 2018 ini memiliki tebal 288 halaman dan berisi kumpulan prosa tentang permasalahan cinta, patah hati dan kehilangan. Tidak heran ketika saya membaca buku ini, suasana haru, sedih, serta baper menyelimuti perasaan.

Dari sampulnya yang berwarna hitam dengan ilustrasi seorang laki-laki sedang berkelana menjelajah alam, semakin mempertebal kisah sedih yang dibawakan sang penulis. Apalagi dengan title “Ruang Sendiri” untuk mengenang yang telah pergi sudah menjelaskan bahwa kumpulan prosa yang ditulis merupakan kisah sedih penulis dalam kehidupannya. Memang benar kata orang -yang saya lupa siapa namanya- bahwa karya hebat terkadang lahir dari jiwa-jiwa yang tersakiti. Begitulah dengan buku ini, penulis berhasil menuangkan kisah pelik di hidupnya dalam huruf-huruf menjadi kata-kata kemudian menjelma menjadi kalimat penuh makna. Memotivasi insan-insan merana dan mengajak mereka yang sehat untuk merasakan sakitnya patah hati.

Buku ini menurut saya sangat cocok untuk dibaca. Jika pada review buku sebelumnya yaitu Tapak Jejak Fiersa Besari yang menjadikan travelling dan berkeliling Indonesia sebagai obat yang mujarab untuk menghapuskan patah hatinya, Genta Kiswara menuliskan definsi kepergian dan kerelaan dengan caranya sendiri. Bagaimana menikmati patah hati dengan mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi, seperti salah satu penggalan di buku Nelangsa ini yaitu:

Tak ada rela yang paling benar selain tersenyum ketika hati yang dicintai harus berbahagia dengan seseorang yang ia kasihi.


Ditulis oleh Al dari GPAN Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *