[Review Buku] Fiersa Besari: Tapak Jejak, Menikmati Patah Hati menjadi Royalti

Tiga tahun lalu, bertempat di Gedung Graha Politeknik Negeri Malang, pertama kalinya saya menonton konser Fiersa Besari. Malam itu juga, saya termangu di luar gedung. Saat itu saya dan seorang teman berbincang ringan tentang kata-kata yang mampu membius banyak orang dari sang penyanyi. Katanya, salah satu kata tersebut dituliskan oleh Bung Fiersa di buku favoritnya yaitu Tapak Jejak. Saya sebenarnya hanya mampu menyimak karena saat itu saya bukan penikmat lagu dan buku dari Bung Fiersa. Bahkan saya hanya mengetahui sekitar empat lagu darinya.

Penggalan kata-kata dari Bung Fiersa Besari di konser itu yang membuat teman saya terbius adalah:

“Berhenti berlari, terima kenyataan

Lalu pulang untuk melanjutkan hidup.”

Penggalan kata itu begitu tebal di kepala. Pikiran seolah mengawang. Apa yang Bung Fiersa  sampaikan ibarat tinta di kertas yang sangat lekat dan tak mudah luntur. Seolah-olah, tanpa harus tahu apa dan mengapa, mendengarkan kata-kata itu saja pasti tahu bagaiamana rasanya menjadi si penyanyi yang berkeliling Indonesia untuk mengobati rasa patah hatinya.

Perjalanan Melanjutkan Hidup

Tapak Jejak, merupakan seri lanjutan dari Arah langkah –cerita yang memuat kisah-kisah perjalanan Fiersa Besari dalam upaya menyeka lara di hatinya. Sebagai lanjutan dari buku Arah Langkah yang diterbitkan oleh penerbit Media Kita , buku ini masih menceritakan perjalanan Fiersa Besari menyusuri Indonesia. Bung, sapaan Fiersa Besari, menjelaskan secara detail perjalanannya di wilayah Timur. Kisah yang berawal dari niat dan tujuan yang berbeda, Bung dan dua sahabatnya yaitu Anisa Andini atau Prem dan Baduy menyusuri perjalanan berkeliling Indonesia.

Dalam  buku Tapak Jejak, Bung melanjutkan cerita perjalanannya, yang pada akhirnya harus seorang diri menjejaki perjalanan hingga ke Indonesia Timur setelah Prem dan Baduy memilih kembali pada rutinitas masing-masing dan tidak melanjutkan perjalanan bersama Bung. Kisah-kisah Bung dalam menyusuri Indonesia terbilang sangat menarik, bagi beberapa pembaca mungkin bisa menjadi dorongan tersendiri dalam membangkitkan semangat bertualang. Dalam perjalanannya, Bung bercerita bahwa ia bertemu dengan banyak sahabat baru disetiap tempat yang ia singgahi dan mereka berasal dari berbagai kalangan. Ada Desi, Sarah, Agu, dan Novi yang bekerja di civitas akademik di Universitas Papua, Irfan yang gigih di Banda Neira, para anggota komunitas pecinta alam yang unik dan banyak sahabat lainnya.

Kisah-kisahnya diceritakan Bung dengan luwes dan ringan. Dalam beberapa bagian cerita, dilengkapi juga dokumentasi perjalanan dari lensa kamera Bung disetiap tempat yang ia singgahi. Dalam buku yang berisi 316 halaman ini, kita dapat mengenal Bung dan kisah lamanya. Karena ada bagian dalam bukunya yang diberi nama “Kepingan Ingatan” disetiap sub bagian cerita. Ada 7 kepingan ingatan yang berisi cerita-cerita metamorphosis Bung. Dari ia kecil, masa bersekolah, masa kuliah, hingga melakukan perjalanan panjangnya selama 7 bulan menyusuri Indonesia lalu kembali menemukan makna pulang.

Masih sama dengan buku-buku karya Bung sebelumnya, dalam buku Tapak Jejak ini juga berisi pesan-pesan dan quotes-quotes lainnya:

“Kita merasa sendirian karena kita yang memilih untuk sendirian”

“Kebebasan bukanlah kebebasan tanpa adanya tanggung jawab”

“Kurasa, inilah yang dimaksud dengan ikhlas. Ketika kita tidak lagi memaksa melupakan, ketika mengingat tidak lagi menyakitkan”

Setelah membaca buku Tapak Jejak ini, saya berusaha untuk memaafkan apa-apa saja yang telah terjadi kepada diri saya, apa saja yang hilang dan tak kembali. Banyak orang yang hatinya patah memilih untuk pergi, memilih melakukan sebuah perjalanan sebab mereka tahu ada sesuatu yang hilang dan dan takkan kembali dalam diri mereka.

Pergi mungkin bisa dijadikan sebuah pilihan sebab ia bisa menjelma sebagai obat mujarab untuk hati yang telah patah.

Saya ingin bisa seperti Bung; berhenti berlari, terima kenyataan, lalu pulang untuk melanjutkan hidup. Saya ingin bisa seperti yang mampu mengubah patah hati menjadi royalti.

Ditulis oleh Al dari GPAN Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *