[REVIEW BUKU] Ahmad Tohari : Orang-Orang Proyek, Sebuah Kritik Praktek Korupsi di Zaman Orde Baru

Identitas Buku :

Judul Buku       : Orang-Orang Proyek

Penulis             : Ahmad Tohari

Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan            : I – Januari 2007                        

Tebal                : 253 halaman


“Banyak orang memilih cara hidup bersahaja dan mereka sangat kaya akan rasa kaya. Atau hati dan jiwa mereka memang benar-benar kaya.”

Buku “Orang-Orang Proyek” merupakan salah satu karya Ahmad Tohari disamping buku Ronggeng Dukuh Paruk yang cukup terkenal. Novel yang dicetak pertama kali tahun 2007 oleh penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama ini secara garis besar menceritakan tentang seorang insinyur yaitu Kabul yang bekerja sebagai kepala proyek pembangunan jembatan di pinggiran sungai Cibawor.

Ahmad Tohari memiliki ciri khas yang selalu mengangkat kisah fiksinya dari kegelisahan pada umumnya. Berlatar belakang zaman “Bapak Pembangunan” atau biasa disebut Orde Baru, dimana pada saat itu terjadi kampanye partai politik untuk menggaet simpati masyarakat pada pemilihan umum berikutnya. Melalui buku ini, sang penulis ingin menggambarkan sebuah peperangan antara idealisme dan fakta di lapangan, kerakusan dan bancaan sebuah jabatan, serta keberpihakan dengan orang-orang kecil. Dan hal yang tidak pernah terlewati oleh sang penulis, yaitu bumbu-bumbu cinta.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Kabul. Lelaki berusia tiga puluh tahun yang merupakan eks aktivis kampus yang berjiwa idealis. Kabul diberi amanat untuk memimpin pembangunan jembatan di sebuah desa. Ia memiliki tanggung jawab untuk membuat jembatan tersebut sebaik dan sekokoh mungkin serta sesuai standar. Terlebih tuntutan idealismenya yang mewajibkan jembatan yang ia bangun harus mampu bertahan bertahun-tahun.

Sayangnya, rencana Kabul tak berjalan semestinya. Mulai dari orang-orang proyek dengan strata terbawah hingga atasan ikut menggerogoti proyek ini. Ia merasa direcoki dengan penyelewengan dana pembangunan untuk kepentingan pribadi pejabat. Akibatnya, pembangunan jembatan tidak sesuai dengan mutu dan target yang telah direncanakan. Hal ini menyulut perang dalam diri Kabul. Apakah ia harus melaksanakan proyek sesuai perintah atasan atau tetap menuruti idealisme yang ia pegang. Selain itu novel ini juga semakin menarik karena terselip bumbu-bumbu cinta antara Kabul dan sekretaris proyek tersebut.

Dokumentasi Pribadi Penulis

Relevansi pesan dari buku setebal 253 halaman ini lebih luas dalam kehidupan nyata, yaitu berlaku juga pada pekerjaan di bidang-bidang lain. Seringkali kita mengalami seperti yang dirasakan Kabul yaitu dihadapkan dengan pekerjaan yang berlawanan dengan hati nurani. Tentu, kita selalu punya pilihan baik itu tetap mempertahankan pekerjaan dan melakukan apa yang diperintah atasan, atau berhenti menuruti hati lalu mencari ladang nafkah yang lain.

Buku ini layak dibaca karena ia secara detail dan gamblang menceritakan realita sosial yang terjadi pada masa itu. Penggambaran tokoh Kabul di novel apik ini membuat pembaca bisa merasakan konflik yang terjadinya dalam dirinya. Walaupun menurut saya tidak sedalam karya fenomenalnya yang sudah saya baca, Ronggeng Dukuh Paruk, namun saya pikir buku ini tetap memperlihatkan keberpihakan Ahmad Tohar terhadap orang kecil. Sudah barang tentu tokoh Kabul adalah cerminan dari kegelisahan sang penulis terhadap para birokrat Orde Baru yang semena-mena.


“ Mereka menikmati kegembiraan semu, bahkan tragis. Ya, tragis karena mereka tidak menyadari telah menjadi korban, menjadi tumbal bagi ambisi orang-orang partai.”

Diulas oleh Al, anggota GPAN Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *