RESENSI: Pudarnya Pesona Cleopatra

posted in: GPAN Regional Jogja, Resensi | 0

Oleh: Fifi Fatmawati

 

pudarnya-pesona-cleopatra

 

DATA BUKU

Judul Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra

Pengarang : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Republika

Kota Tempat Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2005

Tebal Halaman : 110 halaman 20,5 x 13,5 cm

 

“Cinta tidak menyadari kedalamannya,

sampai saat ada perpisahan”

(Kahlil Gibran)

          Manusia pasti menginginkan sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya. Tetapi kenyataan tidak selalu seirama dengan ekpektasi. Kadang dalam hidup, kita menginginkan sesuatu yang menurut kita baik tapi tidak menurut Allah SWT. Dan kadang kita tidak menginginkan sesuatu yang tidak baik terjadi dalam hidup padahal baik menurut Allah SWT. Biarlah Allah SWT yang menentukan jalan hidup kita. Sebagai hamba-Nya, kita hanya bertugas untuk memantaskan diri dan menerima segala takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya dengan segala keyakinan dan lapang dada. Sesungguhnya tidak ada takdir Allah yang tidak membawa kebaikan serta keberkahan bagi hamba-Nya.

          Masih sama seperti novel-novel, seperti Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, Kang Abik, begitu sapaan hangatnya, masih menghadirkan nuansa Mesir dalam novel Pudarnya Pesona Cleopatra ini dan juga ciri khasnya yang tidak terlepas dari kisah cinta karena Allah.

          Dalam novel ini terdapat dua pemeran utama. Pria yang memperistri seorang wanita bernama Raihana dengan tidak didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang. Pernikahan yang dijalani hanyalah sebagai bukti bakti kepada ibunya yang dianggap segalanya sepeninggal ayahnya. Raihana adalah seorang wanita shalehah yang cantik dengan perawakan baik, berjilbab rapi, sarjana pendidikan dan juga hafidz Al-Qur’an. Ia mencintai suaminya dengan sepenuh hati meskipun sang suami belum bisa mencintainya dengan cara yang serupa.

          Pria (pemeran utama) tersihir oleh kecantikan gadis Mesir yang dianggap sebagai titisan Cleopatra, Ratu Mesir pada zaman Romawi. Dalam angan, pria ini menggambarkan gadis Mesir sebagai sosok yang sempurna dengan paras cantik nan jelita, kulit putih bersih bersinar, mata bulat bening khas Arab, bibir merah halus merona, dengan hidung melengkung indah yang menghiasi wajah. Wajah yang bersinar seperti permata Zabarjad yang bersih, indah dan berkilauan dalam balutan jilbab sutera. Senyuman yang terlukis di wajah mereka mampu menyihir bahkan meluluhlantakkan dinding iman siapa saja yang melihatnya. Bahkan dikatakan apabila ada 8 orang gadis Mesir yang berdiri dihadapannya, maka yang cantik ada 16 karena bayangan dari gadis Mesir itu pun turut cantik rupawan. Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir sedemikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hati sampai-sampai menjajah cita-cita, mimpi serta harapannya.

          Sementara ia terbang jauh dan semakin hanyut dalam khayalan menikahi gadis Mesir suatu saat nanti, ia melupakan istrinya. Ia menyia-nyiakan istrinya. Ia mengabaikan istrinya. Ia merasa dirugikan oleh keadaan. Ia merasa hidupnya sia-sia. Dalam hatinya tercipta tembok penghalang yang sukar untuk diruntuhkan. Padahal istrinya, Raihana, wanita yang telah dinikahinya, adalah wanita shalihah yang patuh kepadanya, yang bersedia mencurahkan seluruh hidup untuk suami yang dicintainya. Meskipun sering mendapat perlakuan buruk, Raihana tetap setia. Raihana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Raihana tetap melayani suaminya yang tidak mencintainya dengan sepenuh hati. Raihana adalah perempuan Jawa sejati yang selalu berusaha menahan segala cobaan dengan kesabaran. Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun seringkali mendapatkan perlakuan dingin dan acuh tak acuh dari suaminya. Satu hal yang tidak Raihana inginkan yaitu perceraian. Perceraian adalah neraka baginya. Tangis dan lantunan ayat suci Raihana tetap belum juga bisa merobohkan dinding hati suaminya. Sampai pada suatu hari, Raihana hamil. Kehamilan yang terjadi karena kepura-puraan sang suami yang lagi-lagi didasari oleh ketidakinginan untuk mengecewakan sang ibu bukan atas dasar cinta dan kehendaknya sendiri. Seiring berjalannya waktu, dengan kekuatan do’a yang Raihana panjatkan dalam setiap shalatnya, dinding hati suaminya perlahan-lahan mulai runtuh dan sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia mulai benar-benar mencintai istrinya, Raihana. Dia mulai sadar akan pengorbanan istrinya selama ini yang telah ia sia-siakan. Ia mulai sadar dengan kedzaliman yang selama ini telah ia perbuat kepada istrinya. Ia menyesal. Namun sayang, penyesalan selalu datang terlambat. Raihana yang waktu itu tengah hamil tua mengalami musibah sehingga menyebabkan dia dan anak yang ada di dalam kandungan tidak terselamatkan. Ia terlambat. Raihana telah tiada. Raihana telah meninggalkannya untuk selamanya tanpa memberikan kesempatan untuk sekedar meminta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumnya dengan penyesalan dan rasa bersalah. Betapa cinta tidak menyadari kehadirannya sampai saatnya terjadi perpisahan.

          Novel ini memang benar-benar novel pembangun jiwa. Banyak hal menarik yang terjadi dalam novel ini. Penulis mampu membuat pembaca hanyut dalam emosi, disisipi dengan puisi-puisi yang mendukung serta akhir dari cerita yang tidak terduga. Bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami. Jalan cerita yang disuguhkan sederhana tetapi menimbulkan kesan yang mendalam. Novel ini mengajarkan kepada kita bahwa kecantikan bukanlah segalanya. Novel ini juga membuktikan bahwa penyesalan memang selalu datang terlambat. Dalam novel ini, penulis juga menyampaikan amanat secara tersirat bahwa segala sesuatu tidak hanya dinilai dari kecantikannya saja karena kecantikan bukanlah suatu hal yang abadi. Kita sebagai manusia janganlah sekali-kali meremehkan nikmat atau pemberian dari Allah SWT. Novel ini sangat disarankan bagi para muda-mudi terutama yang menganggap bahwa kecantikan adalah segalanya. Tetapi, cerita yang disediakan masih kurang detail dan seharusnya masih banyak cerita-cerita menarik yang dapat disisipkan dalam dalam novel ini. Selain itu, teks cerita yang disediakan sebaiknya ditambah agar pembaca dapat lebih menghayati.

.

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *