[ Resensi Buku Tere Liye – Negeri di Ujung Tanduk ] Sekuel kedua Negeri Para Bedebah

Di Negeri di ujung tanduk

Kehidupan semakin rusak

Bukan karena orang jahat semakin banyak

Tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

            Buku ini merupakan sekuel buku kedua dari buku Tere Liye yang pernah ku bahas sebelumnya yaitu Negeri Para Bedebah. Jika dalam buku sebelumnya, si penulis membahas borok maupun problematika kapitalisme dari segi ekonomi, kali ini ia mengupas kebobrokan politik dan demokrasi di negeri ini. Novel dwilogi ini dengan genre Ekonomi dan Politik ini, memang termasuk berat dari puluhan karya novel Tere Liye pada umumnya. Tetapi, untuk saya yang sangat menikmati sekuel pertama buku ini, pasti tertarik dan siap untuk melahap tuntas buku ini.

            Buku ini masih menceritakan Thomas sebagai peran utamanya. Jika di buku pertama, kita disajikan dengan latar belakang upaya penyelamatan salah satu Bank milik Paman Thomas, kali ini Thomas dihadapkan dengan musuh dan problem yang lebih besar. 

            Thomas yang saat ini berusia 33 tahun kini memiliki sebuah kantor konsultan keuangan dan politik yang sangat terkenal. Tak pernah salah dalam memberikan nasihat keuangan kepada semua perusahaan kliennya. Ia juga sangat berpengaruh. Tegas, cerdas, akurat, dan penuh perhitungan dalam menjalankan berbagai macam hal. Pekerjaan thomas selain sebagai konsultan politik, ia juga sebagai salah satu petarung hebat yang selalu mengalahkan lawan mainnya. Kali ini thomas mencoba untuk bertarung di kanca Internasional. Salah satunya ia bertarung dengan petarung Hongkong yang bernama Lee. Pertarungan itu dilaksanakan di Makau, dan yang memenangkan pertarungan ini adalah Thomas.

            Berkat kemenangan ini, thomas yang dihadiahi sebuah kapal pesiar oleh Opa. Opa dan Kadek menyusul thomas ke Makau. Kebahagiaan mendapatkan kapal pesiar baru, kini telah hilang karena pasukan SAR Hongkong datang dan memeriksa kapal tersebut. Celakanya terdapat barang bukti berupa seratus kilogram heroin dan setumpuk senjata. Seketika, thomas, opa, kadek dan maryam pun ditangkap dan diamankan oleh polisi setempat. Padahal ini semua hanya sebuah jebakan agar thomas tidak dapat menghadiri konverensi partai kandidiat presiden esok hari.

            Thomas sebelumnya menjadi klien dari salah satu calon presiden. Di perjalanan cerita buku ini, akan disajikan usaha Thomas untuk membongkar borok dan penyelewengan birokrasi negara yang menyeret orang-orang terdekatnya. Seperti kita ketahui, dunia politik adalah dunia yang tidak bisa dibedakan mana hitam mana putih. Kawan bisa jadi lawan. Main tusuk belakang. Menjatuhkan lawan tidak hanya dengan kekerasan, sekarang yang paling kejam adalah dengan cara pencitraan seperti yang menjadi isu hangat di dunia perpolitikan Indonesia.

            Selain menyajikan kisah konspirasi besar di negeri tersebut, Tere Liye juga menyematkan banyak pesan moral yang bisa kalian renungkan di akhir cerita. Mengutip pesan moral dari novel ini bahwa, kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan.

Ditulis oleh Al yang kebetulan jadi buruh kerja di GPAN Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *