[ Resensi Buku Raditya Dika – Marmut Merah Jambu ] Observasi Konyol tentang Cinta Monyet

Raditya Dika adalah seorang penulis dan juga seorang blogger terkenal yang telah terkenal dengan buku Kambing Jantan yang bertema komedi. Buku Kambing Jantan ini adalah awal kesuksesan Raditya Dika. Dia telah banyak membuat banyak buku seperti Cinta Brontosaurus, Radikus Makan Kaskus, Babi Ngesot dan Manusia Setengah Salmon. Kebanyakan buku Raditya bertemakan hewan. Raditya Dika meluncurkan buku kelima yang masih bertemakan hewan yaitu Marmut Merah Jambu.

Marmut merah jambu adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebagian besar dari 13 tulisan yang ada pada buku ini adalah pengalaman dan observasi Dika dalam menjalani kehidupan bercinta. Cinta tak terbalas adalah hal yang paling bisa bikin kita nangis tanah. Untuk tau kalau cinta kita tak terbalas, rasanya seperti bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna, atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut.

Buku Marmut Merah Jambu

Radit memulai buku ini dengan berusaha memahami apa itu cinta melalui introspeksi ke dalam pengalaman – pengalaman Dika sendiri. Alih – alih seperti belalang, Dika merasa seperti seekor marmut merah jambu yang terus – menerus jatuh cinta, loncat dari satu hubungan ke hubungan yang lainnya, mencoba terus berlari di dalam roda bernama cinta, seolah – olah maju, tapi tidak, karena sebenarnya jalan di tempat. Seperti marmut yang tidak tau kapan harus berhenti berlari di roda yang berputar.

Buku ini secara keseluruhan cukup menarik, dan pembahasan tentang cerita cinta anak muda sangat mengena. Khususnya cerita tentang orang yang jatuh cinta secara diam-diam kepada sesorang dan takut untuk mengungkapkannya yang mungkin hal tersebut pernah dirasakan oleh hampir semua orang. Gaya bahasa dan penggunaan kata yang digunakan Raditya Dika ini juga sangat mengena dan mudah dipahami, membuat pembacanya seperti benar-banar menyaksikan langsung adegan-adegan yang ada di buku. Alurnya sangat mudah diikuti. Para pembaca seakan-akan ikut merasakan bagaimana rasanya patah hati saat membaca cerita tentang penulis yang cintanya bertepuk sebelah tangan, penulis lebih memilih untuk merelakan orang yang dicintainya dan hanya bisa berdoa semoga orang itu dapat yang terbaik.

Pengalaman cinta yang beragam mulai dari cinta diam-diam, indahnya PDKT, ditolak mentah-mentah sampai saat ditaksir cewek aneh. Radit mengawali kisah pada buku ini dengan kisah cintanya bersama teman sekelasnya Aldi. Mereka menyukai cewek kelas lain. Aldi jatuh cinta diam-diam pada Widya sedangkan Radit jatuh cinta diam-diam pada Ina. Mereka tak mampu mengungkapkan perasaan mereka karena merasa diri culun. Ketika masuk SMA, Radit bersekolah di sekolah yang sama dengan Ina. Radit dan Ina akhirnya sering jalan bareng dan Ina mulai menceritakan tentang cowok yang ditaksirnya. Cinta Raditpun bertepuk sebelah tangan. Mereka akhirnya berpisah karena Radit akan kuliah di luar negeri.

Kesimpulan saya, buku ini sangat bagus untuk dibaca para remaja jaman sekarang. Karena berdasarkan kisah sehari-hari, dalam gaya bahasa yang ringan dan lelucon yang lucu pesan yang amat penting bagi remaja sukses disampaikan. Buku ini benar-benar bermanfaat, sebab mengajarkan remaja untuk melihat prioritas anatara cinta dan keluarga sebab remaja masa kini hanya mementingkan pacaran dan menomor duakan keluarga.

Ditulis oleh Al yang jadi lumut di GPAN Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *