‘’Putri Mentari dan Mata Air Cinta’’

oleh : Putri Ramadhanti

Pada zaman dahulu di sebuah kerajaan, tinggal lah seorang Raja beserta dengan tiga orang Putrinya, yang bernama Bulan, Bintang dan Mentari. Sang Ratu sudah lama meninggal dunia sesaat setelah melahirkan Putri bungsunya yaitu Mentari.

Suatu hari sang Raja memerintahkan kepada Pelayan istana untuk memanggil tiga orang Putrinya yang sedang berada dikamarnya masing-masing untuk pergi ke ruang keluarga, karena ada sesuatu yang ingin Raja tanyakan kepada tiga orang Putrinya.

 

Raja    : “Putri-Putri ku sayang Bulan, Bintang dan Mentari, ada sesuatu yang ingin Ayah tanyakan kepada kalian”

 

Bulan, Bintang dan Mentari sangat penasaran hal apakah yang ingin Ayah mereka katakana?, kemudian, Bulan sebagai putri sulung memberanikan diri Untuk Bertanya.

Bulan  : “Ada apa Ayah? Kami semua sangat penasaran, hal apakah yang ingin Ayah    Tanyakan?’’

Raja    : “Begini Bulan, Ayah ingin bertanya kepada kalian, seperti apakah rasa sayang kalian  kepada Ayah?”

 

Merekapun menjawab pertanyaan Raja secara bergantian, dimulai dari Bulan, Bintang kemudian yang terakhir Mentari.

Bulan : “Ayah aku sangat menyayangi Ayah, rasa sayang ku kepada Ayah, sebesar   gunung dan sedalam lautan”

Bintang : “Akupun begitu Ayah, aku juga sangat menyayangi Ayah, rasa sayangku kepada Ayah setinggi dan sebesar gunung dan juga seluas langit dan bumi

 

Lalu giliran Mentari yang harus menjawab

Mentari          : “Tentunya sama Ayah, aku juga menyayangi Ayah, rasa sayangku kepada

              Ayah seperti segelas air”

 

Raja terkejut sekali dan juga sangat marah mendengar jawaban Mentari

Raja                 : “Apaaaaaaaaaaaaaaaaah Mentari, kau menyayangi Ayah hanya seperti segelas air?  Kecil sekali, itu sama saja kau tidak menyayangi Ayah, Ayah kecewa sekali Mentari mendengar jawabanmu itu!!”

           Mentari            : “Bu bu bukaaaaaan seperti itu Ayah Maksudku”

 

Belum sempat Mentari menjelaskan, tiba-tiba sang Raja langsung memerintahkan prajurit

Raja                 : “Prajuriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit, tolong asingkan dia ke tempat yang jauh, bawa dia pergi dari sini, aku sudah tidak mau melihatnya !!!!”

           Mentari            : “Jangan Ayah jaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangaaaaaaan, biarkan aku menjelaskannya dulu”

 

Akan tetapi Raja tidak mau mendengarkan.

Lalu para Prajurit membuang Mentari ke hutan.

 

Di Hutan Mentari menemukan gubuk tua,yang ia kira sudah tidak berpenghuni,

setelah ia masuk ternyata gubuk itu di huni oleh seorang nenek tua yang hidup sebatang kara,

akhirnya Mentari ikut tinggal bersama nenek tersebut.

 

Beberapa bulan sesudah itu, sang Raja pergi berburu ke hutan Ditemani dengan pengawal.

Ditengah-tengah perjalanan, ternyata di hutan itu sedang kekeringan

dan sumber air tidak ada dimana-mana.

Raja sangat kehausan dan bekal minumannya pun sudah habis,

sedangkan untuk pulang keistana akan membutuhkan waktu yang lama,

karna hutannya jauh dari istana.

 

Ternyata di hutan itu ada salah satu sumur yang airnya tidak pernah kering, dan akhirnya Raja pun

datang kesana untuk mencari minum.

Sumur itu berada tepat di samping gubuk tua tempat Mentari tinggal bersama nenek tua.

 

Nenek tua menyambut kedatangan Raja dengan baik ia mempersilahkan Raja masuk.

           Nenek tua        : “Silahkan masuk Baginda, dan ada apa kiranya Baginda datang kesini?”

           Raja                 : “Aku sedang berburu dan ternyata di hutan ini sedang kekeringan, aku kehabisan bekal minuman dan aku sangat haus, Lalu aku dengar disamping gubuk mu ini ada sumur yang tidak pernah kering?, dan aku berniat untuk meminta minum, bisa tolong ambilkan?, aku bisa mati jika kehausan seperti ini”

Nenek tua        : “Baiklah Raja akan saya ambilkan”

 

Ketika nenek tua ingin membawakan segelas air untuk Raja, tiba-tiba Mentari berkata

Mentari          : “Nek, biar aku saya yang membawakannya untuk Ayah,aku inginTahu apakah Ayah masih mengenaliku atau tidak”

Nenek tua        : “Baiklah nak kalau begitu”

Tentunya dengan pakaian compang-camping dan lusuh, serta tubuh dan wajah yang tidak terawat Raja tentu sudah tidak mengenali Putrinya Mentari.

 

Namun, bukannya segelas air yang Mentari bawakan untuk Raja, akan tetapi Mentari malah membawakan satu gelas kosong untuk Raja.

Rajapun sangat Marah.

Raja     : “Apa apaan kau ini, aku ini minta segelas air, kenapa malah kau      bawakangelas kosong?, kau tahu aku sudah beberapa hari tidak minum, dan yang harus kau tahu aku bisa mati karena kehausan !!!”

Mentari : “Apa menurutmu air sangat penting?”

Raja     : “Ya tentu saja !!, karena setiap makhluk hidup membutuhkan air”

Ucap Raja dengan nada membentak.

Mentari  : “Apakah kau ingat? Kau telah membuang Putrimu sendiri hanya karena

mengumpamakan kasih sayangnya seperti segelas air, apakah kau ingat?, aku adalah Mentari Ayah, Putrimu yang telah kau buang”

Mentari menangis, begitupun dengan Raja

Raja     : “Apaaaaaaaaaaaaa kau ini Mentari Putri bungsuku”

Mentari : “Iya Ayah aku adalah Putrimu, Beginilah maksudku dulu Ayah, bahwa kasih sayangku kepada Ayah seperti segelas air karena jika aku tidak minum segelas air dalam satu hari saja, aku pasti akan sangat kehausan, bahkan aku bisa mati karena kehausan, karena setiap makhluk hidup membutuhkan air Ayah, tanpa air mereka takkan bisa hidup. Begitu pula sayangku kepada Ayah sama seperti segelas air, tanpa ayah sehari saja dihidupku, hidupku akan terasa hampa tanpa kasih sayangmu, Apalah artinya aku tanpa engkau Ayah, pahlawanku, pahlawan kami, yang telah membesarkan Aku, kak Bulan dan kak Bintang, sendiri tanpa seorang Ibu”

Sang Rajapun menangis, lalu memeluk Mentari dengan erat

Raja     : “Maafkan aku Putriku, sekarang Ayah baru sadar bahwa ternyata sesuatu yang kecil itu belum tentu maknanya kecil, seperti segelas air ini, ternyata mengandung arti yang sangat banyak dan penting”

Mentari :  “Tidak apa-apa Ayah aku sudah lama memaafkanmu”

 

Akhirnya Mentari kembali lagi tinggal di istana dan mengajak serta Nenek tua untuk ikut tinggal di istana. Dan sejak saat itu sumur yang tidak pernah kering itu disebut sebagai “Mata Air Cinta”. Karena melalui mata air itu Raja dan Putrinya dapat bertemu kembali, dan melalui mata air itu pula hati Raja yang tadinya sangat keras sekarang berubah menjadi lembut dan penyayang.

 

Tamat

 

Pesan Moral dari dongeng ini adalah:

Jangan memandang sesuatu itu sebelah mata, dan harus menghargai pendapat orang lain. Karena sesuatu yang kecil belum tentu tidak memiliki makna, terkadang  dibalik sesuatu yang kecil itu, memiliki makna yang sangat berarti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *