Ilustrasi Dongeng Indonesia, credit: https://asset-a.grid.id/haifoto/original/56812_karya-renata-owen

Meratapi Suara Dongeng di Indonesia

posted in: Esai | 0

Masihkan ingat dengan tokoh Pak Raden yang ada di cerita si Unyil? Konon, Pak Raden-lah pencipta cerita Si Unyil yang sangat tenar itu. Drs. Suyadi  nama asli Pak Raden, manusia yang selalu konsisten membuat gembira anak-anak dengan dongeng dan gambar sketsanya saat mendongeng. Sosok yang menjelma obat rindu cucu kepada kakeknya ketika pulang ke desa. Penuh keceriaan dan cerita heroik nan didaktis, di sela libur sekolah.

Kini, dongeng kakek terkalahkan oleh gawai yang selalu membayangi kehidupan indah anak-anak dimana pun berada. Dongeng tak lagi bergaung di telinga anak-anak menjelang tidur. Dongeng pun tak selalu diprioritaskan bagi pendidikan di taman kanak-kanak. Seperti juga majalah Bobo yang tak lagi jadi perbincangan kelakar para anak disela jam istirahat sekolah. Si Bona dan Rongrong kehilangan pengagumnya.

Dongeng Adalah Karya Sastra

Banyak yang mengiyakan, bahwa negara yang maju salah satunya ditandai dengan banyaknya karya sastra yang tercipta. Dongeng adalah salah satu wujud lain dari karya sastra. Dan siapa yang menyangka, selain banyaknya jenis kulinernya, Indonesia pun Kaya akan cerita dongeng. Dan, mungkin ini pula salah satu tanda bahwa dahulu nusantara adalah negara yang tergolong maju di zamannya.

Menurut Kamisa dongeng adalah karya sastra yang ceritanya dituturkan. Biasanya cerita dongeng tidak benar-benar terjadi/fiktif. Dongeng bersifat menghibur dan terdapat ajaran moral di dalamnya. Ajaran inilah estetika yang harus dipahami oleh masyarakat. Estetika menjadi modal ketersampaian ajaran moral bagi anak-anak bangsa. Dengan unsur estetik anak akan lebih mudah menerima sebuah pesan tersirat yang disampaikan.

Kini, karya sastra ataupun dongeng tak lagi riang bergema di Indonesia. Entah, terserang era modern atau saking langkanya masyarakat yang peduli dengan tradisi yang bernilai tinggi di Indonesia ini. Sudah saatnya dongeng kembali digaungkan. Kembali diajarkan sebagai dogma untuk mempersiapkan generasi bangsa yang kuat dan tahan banting menghadapi timbunan infomasi dan keterhimpitan manusia atas berjibunnya mesin-mesin di zaman ini.

Dongeng Untuk Mendidik Jiwa Anak

Di mata dunia, dongeng menjadi sarana untuk mengajarkan humanitas sedari dini kepada anak. Bisa pula disebut sebagai metode doktrinasi akan suatu nilai yang ingin ditanamkan kepada anak. Dongeng menjadi cerita yang masuk dalam alam bawah sadar sang anak, menjadi refleksi dan menggerakkan harapan hidup anak di masa depan.

Dongeng menjadi pemicu kehidupan yang dapat menggerakkan langkah anak dalam proses tumbuh-kembangnya. Cerita dongeng akan mempengaruhi gerak reflek anak di saat terjadi kegamangan atau keputusasaan hidup. Semisal cerita heroik Robin Hood dari inggris yang memicu kesadaran untuk bertindak humanis dan bersikap baik kepada sesama manusia.

Apalagi dalam ranah moral dan identitas sebagai permasalahan yang saat ini mendera anak-anak bangsa. Dongeng dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk refleksi batin seorang anak. Dan pada akhirnya mempersiapkan generasi bangsa, agar lebih bermoral dan beridentitas. Begitu pula dengan kecintaan kepada Indonesia, terpenting cinta kepada daerah asalnya.

Bangsa Indonesia patut berbangga karena Indonesia gudangnya dongeng lokal. Cerita-cerita lokal ini dapat dipakai sebagai referensi orang tua untuk mendidik anak. Seperti Cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Si Timun Emas, Joko Kendil, Joko Tarub, Bandung Bondowoso dan masih banyak lagi cerita lokal yang bisa didongengkan. Masyarakat Indonesia tak akan kekurangan bahan bertutur. Anak pun tak mungkin jenuh dengan cerita-cerita dongeng yang monoton. Tak akan mungkin terjadi di Indonesia!

Dongeng adalah cara didaktis yang paling sederhana dan tak banyak biaya. Tentunya, biaya program revolusi mental dapat terpangkas. Lalu, dapat dialihkan ke program persiapan generasi yang siap berperang di zaman yang serba cepat dan maha dahsyat.

Jujur, saya sendiri agak tertegun melihat proses pendidikan anak yang melulu diajarkan hal-hal bersifat teknis saja. Masalah batin atau jiwa anak tak lagi menjadi fokus. Padahal, jiwa anaklah yang menjadi tanggung jawab untuk selalu ditempa oleh dekap asuhan kita.

Pertanyaannya sekarang, berapa orang tua, berapa instansi pendidikan dan berapa anak yang masih mendengarkan dongeng dalam asuhan masa kecilnya?

Kilas Balik Bapak Dongeng Dunia.

Entah berapa orang yang masih ingat dengan Hans Christian Andersen atau H.C. Andersen. Dia adalah bapak dongeng dunia yang terkenal dengan karyanya “The Little Mermaid” dan “The Snow Queen”. Seorang sastrawan yang sangat peduli anak lewat cerita-cerita yang dibuatnya.

Hans Christian Andersen, credit: https://s26162.pcdn.co/

Walupun Anderson terlahir dari ayah yang buta huruf dan ibu yang hanya menjadi buruh cuci, tahun 1802 silam. Kepiawaiannya mengolah sastranya sebagaian besar dipengaruhi ayahnya yang sering mengajaknya menonton pertunjukan sandiwara.

Menjadikan Andersen muda mempunyai imajinasi yang tinggi. Cita-cita ingin bergelut di dunia seni dilakukan dengan masuk kelompok sandiwara Royal Danis Theatre di Denmark. Dari sinilah karirnya menulis di mulai. Dia menjadi penulis naskah sandiwara. Walupun pada akhirnya dia lebih fokus pada cerita anak.

Nasib Andersen berubah semanjak dia bertemu dengan Raja Denmark, Frederick VI. Anderson ditawari untuk sekolah bahasa di Slagelse dan Elsinore. Setelah lulus di tahun 1827, Anderson ditawari untuk melanjutka kuliah di Universitas Kopenhagen oleh salah satu petinggi Royal Danish theatre. Dari sinilah nama H.C. Andersen berangsur-angsur terkenal.

Harapan Untuk Hari Dongeng

20 Maret diperingati sebagai hari dongeng dunia. Hari dongeng yang berasal dari hari nasional mendongeng di Swedia yang dikenal dengan “Alla Beratteres Dag”. Lalu, bagaimana kepedulian pemerintah terhadap dongeng di Indonesia?

Pak Raden (Drs. Suryadi) orang Indonesia yang sangat peduli dengan anak. Dia bersikeras untuk mencipta kegembiraan anak lewat cerita-cerita yang dikaranganya. Dongeng Pak Raden yang selalu dikemas dengan visualisasi gambar saat bercerita, tak lagi diperhatikan keberadaannya. Kepergiaan pak Raden ikut serta membawa pergi cerita-cerita dongengnya.

Pak Raden dan Boneka Si Unyil, credit: https://www.tobasatu.com/

Kini muncul Kak Kusumo dengan tokoh Gasa-nya (Garuda Perkasa). Beliau selalu berusaha menjadikan 28 oktober sebagai hari dongeng nasional. Perjuangannya sampai saat ini pun belum membuahkan hasil.

Sampai kapan perjuangan kak Kusumo berakhir?

Sampai kapan pula masyarakat Indonesia tersadar akan kekuatan sakti Dongeng?

Kita hanya bisa menunggu sampai pemerintah bangun, mempedulikan dan menggaungkan dongeng di setiap telingan anak Indonesia. Semoga lekas tersadar. Lalu, kerinduan kita lekas terobati oleh dongeng yang mulai terdengar gaungnya di telinga anak-anak Indonesia. Sembari menunggu kebangkitan cerita Bona dan Rongrong, Si Unyil, Gasa dan cerita-cerita dongeng lain dari tidur panjangnya.

Semoga dongeng kembali menghangatkan hidup anak-anak Indonesia!

Frengki Nur Fariya Pratama GPAN Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *