Menjaga Bahasa Daerah Melalui Lagu-Lagu Ambyar, A Tribute For Didi Kempot

Sang Maestro campursari atau penyanyi lagu berbahasa jawa, Didi Kempot, memang telah meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 2020 karena penyakit jantung di Kota Solo, Jawa Tengah. Tetapi, Didi Kempot yang dijuluki sebagai “The Godfather of Broken Heart” tidak hanya meninggalkan hampir sekitar 900 lagu campursari, yang mayoritas berbahasa jawa, namun juga meninggalkan warisan tentang pentingnya merawat bahasa daerah. Didi Kempot sangat konsisten dengan profesinya dari awal karir hingga di akhir usianya untuk menciptakan lagu-lagu bahasa jawa. Bahkan sebelum meninggal, beliau menggelar konser amal bantuan penanggulangan Covid-19 yang mampu menghimpun dana sekitar Rp 7 miliar.

Komitmen Didi Kempot dalam menjunjung bahasa lokal dibuktikan dengan lagu-lagunya yang bukan hanya digandrungi oleh para penggemarnya di Indonesia, yang biasa kita kenal dengan julukan Sobat Ambyar, namun hingga negara Suriname. Beliau berhasil menggaet anak-anak muda bernyanyi, berjingkrak, menikmati patah hati dalam lagu-lagunya yang menguras hati. Anak-anak millennial itu semakin jatuh cinta kepada beliau lantaran lirik-liriknya menggambarkan suasana galau dan patah hati, padahal tidak semua mengerti maupun paham dengan arti lagu beliau yang mayoritas berbahasa jawa. Tetapi, di tangan Didi Kempot, patah hati disulap menjadi hiburan massal. Ketidaktahuan arti lirik disulap menjadi momen berjoget-ria. Patah hati itu bisa dirayakan secara kolosal, dan hanya ada di panggung Didi Kempot.

Sumber : www.instagram.com/didikempot_official

Penikmat lagu Didi Kempot atau Sobat Ambyar ini tidak hanya anak-anak yang setiap harinya fasih berbahasa Jawa, tapi juga milenial dari semua suku di negara ini. Tahun lalu ketika saya berkesempatan menonton konser Didi Kempot di Kota Malang, saya melihat beberapa teman-teman saya yang berasal dari Jawa Barat dan Maluku cukup fasih menyanyikan lagu-lagu beliau dengan tambahan senggakan Cendol Dawet yang khas itu.

Saya berpikir inilah sebuah kebangkitan lagu-lagu Jawa. Lagu-lagu berbahasa daerah sekarang tidak hanya digandrungi oleh masyarakat daerah tetapi juga di perkotaan. Tidak peduli kaya, miskin, kota, dan desa, semua ikut mengandrungi lagu beliau. Hal baiknya lagu-lagu berbahasa lokal menjadi dikenal dan semakin dilestarikan.  Didi Kempot effect tak hanya berhenti disini saja. Popularitas lagu-lagunya juga mengangkat penyanyi yang bertema bahasa daerah. Denny Caknan, Happy Asmara, Abah Lala, Woro Widowati, Guyon Waton, Nella Kharisma, dan Dory Harsa merupakan sedikit dari seniman yang ikut naik pamornya karena membawakan lagu-lagu bahasa daerah. Didi kempot, di akhir hayatnya, mewarisi modal bagi seniman untuk selalu konsisten melestarikan literasi bahasa daerah melalui lagu-lagu.

Penulis pun yang juga sebagai sobat ambyar, berharap agar semangat lagu-lagu berbahasa daerah tidak hanya bersifat seperti pelangi: hadir sebentar, kemudian tiba-tiba lenyap. Seniman dengan semangat kerakyatan ala Almarhum Didi Kempot harus tetap ada untuk menghidupkan bahasa daerah sebagai warisan budaya di negeri ini.

Ditulis oleh Al, anggota GPAN Regional Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *