Literasi sudah ada, dan masih akan tetap ada!

Barangkali saya kurang setuju ketika mendengar sebuah statement dan membaca sebuah tulisan-tulisan yang menyatakan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa yang kurang peduli dan memerhatikan hal-hal yang berbau literasi. Seperti halnya yang ditulis oleh Ketua GPAN Regional Mojokerto dalam essay sebelumnya yang berjudul Indonesia Gagap literasi yang menyatakan bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah, dan dia menyatakan hal seperti itu dengan menyertakan data dari UNESCO. Tetapi entah data yang dia kutip benar-benar valid dari UNESCO atau hanya data abal-abal yang dia peroleh setelah mengembara di dunia maya, karena dalam esainya tersebut tidak dituliskan sumber data yang jelas.

Literasi masih ada!!

iqra.idia.ac.id

Sebenarnya minat masyarakat Jawa terhadap budaya literasi tidak mengalami penurunan atau pengurangan melainkan minat literasinya kurang mengalami perkembangan. Misal saya contohkan, di jaman periodisasi Jawa Kuna sudah banyak pujangga yang aktif dan berhasil dengan karyanya, contoh Resi Walmiki dan Resi Wiyasa. Tetapi di jaman milenial sekarang ini masyarakat Jawa kurang bisa mengembangkan kasusastran Jawa, padahal kasusastran Jawa itu sendiri merupakan salah satu bagian dari Kebudayaan Jawa. Hanya beberapa orang atau beberapa komunitas yang masih mau mengembangkan kasusastran Jawa. Salah satu komunitas yang masih menggeluti kasusastran Jawa yakni Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Ada juga seseorang yang bernama Fajar Laksana, mahasiswa UGM ini juga menggeluti bidang kasusastran Jawa, dia mempunyai blog “Jawa Sastra Culture Movement” yang digunakan sebagai sarana membagikan hal-hal yang berkaitan dengan sastra Jawa baik sastra Jawa Kuna hingga sastra Jawa modern. Sekali lagi minat literasi masyarakat Jawa bukan menurun tetapi kurang bisa berkembang.

Pada masa awal masuknya agama Hindu-Budha, bahasa yang berlaku dan digunakan di Jawa yaitu Bahasa Jawa Kuna. Karya-karya sastra Jawa Kuna telah banyak dikaji oleh pemerhati sastra Jawa, baik kajian itu untuk dirinya sendiri maupun untuk kebudayaan Jawa secara luas. Poerbatjaraka misalnya, dalam bukunya yang berjudul Kapustakan Djawi (1952) telah membagi masa periodisasi sastra Jawa menjadi 7 bagian. Selain itu ada Padmosoekotjo dalam bukunya Ngengrengan Kasusastran Jawa (1953) juga membagi periodisasi satra Jawa menjadi 5 bagian. Dalam pembagian tersebut ada karya-karya yang luar biasa yang diciptakan oleh seseorang pada masa itu yaitu Resi Walmiki. Beliau telah berhasil menciptakan karya sastra yang hebat dan karya tersebut hingga saat ini masih banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia bukan hanya masyarakat Jawa saja, karya fenomenal tersebut yaitu Kitab Ramayana. Selain Resi Malmiki juga ada pujangga bernama Resi Wiyasa yang berhasil menciptakan karya agung yang sampai saat ini karyanya masih hidup di Indonesia, bahkan karyanya juga pernah difilmkan di televisi nasional, karya sastra tersebut yaitu Kitab Mahabharata.

Seperti penjelasan diatas, Poerbotjaraka dalam bukunya Kapustakan Djawi membagi periodisasi sastra Jawa menjadi 7, yaitu sebagai berikut:

  1. Serat Jawa Kuna yang tergolong sepuh, hasil karyanya antara lain Candrakarana, Ramayana, dan parwa-parwa.
  2. Serat Jawa yang berupa sekar (kakawin). Dalam bagian ini dibicarakan nama raja yang disebutkan, pertanggalan, gaya Bahasa. Yang dibahas meliputi 10 kakawin, mulai dari kakawin Arjunawiwaha hingga Lubdhaka.
  3. Serat Jawa Kuna yang tergolong muda. Masih berupa kakawin, membicarakan ciri dasar penggolongannya serta terdapatnya sumber yang lebih tua. Kakawin itu antara lain, Kunjarakarna, Negarakertagama hingga Harisraya.
  4. Munculnya sastra Jawa Pertengahan, mulai dari adanya Kitab Tantu Panggelaran hingga Pararaton.
  5. Kidung Basa Jawi Tengahan, mulai dari Dewa Ruci, Sudamala, Kidung Subrata, Serat Panji Anggreni lan Serat Sri Tanjung.
  6. Jaman Islam, mulai dari runtuhnya Majapahit. Hasil karya di jaman ini yakni Het Book van Bonang, Suluk Wujil.
  7. Jaman Surakarta awal.

Sedangkan Padmosoekotjo, dalam bukunya yang berjudul Ngengrengan Kasusastran Jawa membagi periodisasi kasusastran Jawa sebagai berikut:

  1. Jaman Hindu, mulai dari Ramayana karya Resi Walmiki, Mahabharata karya Resi Wiyasa.
  2. Jaman Majapahit, karyanya yaitu Negarakertagama, Arjunawiwaha, Sutasoma.
  3. Jaman Islam (Demak dan Pajang), karya yang dihasilkan di jaman ini yaitu Suluk Wujil, Suluk Malangsumirang.
  4. Jaman Mataram, karyanya yaitu Serat Nitipraja oleh Sultan Agung, Babad Giyanti oleh Yasadipura I, Serat Wedhatama lan Serat Tripama oleh Mangkunegara IV, Hidayajati, Pustakarajapurwa, Kalatidha, Jayengbaya, Jayabaya, oleh Ranggawarsita, Jagal Bilawa, Bale Sigala-gala, dsb oleh P. Kusumadilaga.
  5. Jaman sekarang (mulai abad 20),Dimulai dari Rangsang Tuban, dsb., karya Ki Padmasusastra, Trilaksita dsb., karya M.Ng. Mangunwijaya, Sawursari karya R.Ng. Sindupranata, Dongeng Kuna karya R.ng. Sastrakusuma, Baru Klinthing karya R.T. Tandhanagara, Kekesahan saking Tanah Jawi dhateng Negari Welandi oleh R.M. Suryasuparta (Mangkunegara VII), hingga Riyanta dan Sarwanta karya R.M Sulardi, Candrasengkala karya R. Bratakesawa, Calonarang karya Wiradat

Ini bukti bahwasannya budaya literasi sudah dilakukan oleh pendahulu kita sejak jaman Jawa Kuna hingga jaman modern sekarang ini, banyak sekali karya-karya sastra yang telah dihasilkan oleh pujangga-pujangga jaman dahulu. Bahkan hasil dari karya jaman dahulu masih dapat kita nikmati pada jaman-jaman milenial seperti sekarang. Saat ini tinggal bagaimana kita, mau atau tidak mengembangkan kasusastran Jawa tersebut agar kasusastran Jawa bisa lebih berkembang dan bercahaya di mata dunia, minimal di mata masyarakat Jawa itu sendiri.

Gelem ngupaya, wani rekasa, wekasane bisa mulya!

Padmosoekatja. 1953. Ngrengrengan Kasusastran Djawa. Surakarta: Panitya Bahasa Djawa

Poerbatjaraka. 1952. Kapustakan Djawi. Jakarta: Djambatan.

Ditulis oleh Rezky Soffan Hadi [ GPAN Mojokerto ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *