Literasi Bagi Generasi Pandemi

posted in: Esai | 0

Sudah satu tahun lebih sejak Maret 2020 Indonesia terpapar pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 ini merubah seluruh tatanan kehidupan masyarakat. Ritme hidup berubah drastis dan tidak jarang memicu kelelahan mental yang mendalam. Segala sektor baik kesehatan, ekonomi, pariwisata, maupun pendidikan serta sektor lain pun terkena imbas Covid-19.

Di sektor pendidikan misalnya, bagi anak-anak, remaja hingga dewasa yang masih mengenyam pendidikan dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi harus merubah proses kegiatan belajar mengajar mereka. Mereka adalah generasi pandemi yang menghadapi kemudahan sekaligus kesulitan dalam belajar. Kemudahannya adalah informasi untuk mencari sumber referensi selama pembelajaran full daring dari rumah mudah diakses. Sedangkan, kesulitannya adalah terlalu banyak informasi yang berjejal tiap detiknya masuk tanpa henti. Di sinilah kemudian generasi pandemi sulit untuk mencerna informasi mana yang bermanfaat atau justru yang bersifat merusak.

Tahun sebelum pandemi, penggunaan gawai bagi anak-anak dan remaja cenderung rendah. Hal itu dikarenakan pembelajaran di sekolah yang full tatap muka hingga siang. Sementara, untuk sore harinya diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan siswa di bidang tertentu. Berbagai kegiatan dan kesibukan mereka lenyap. Segala pembelajaran hanya terfokus pada satu wadah yaitu daring.

Dilansir dari Republika.co.id, kecanduan gawai pada anak meningkat saat pandemi Covid-19 akibat pembelajaran daring tersebut. Anak-anak terasa seperti dikembalikan kepada orang tua aslinya untuk dididik. Orang tua berperan layaknya guru di sekolah. Di sinilah kemudian peran penting pengawasan dari orang tua atau pihak keluarga serta pemahaman literasi dibutuhkan, terutama literasi digital.

Mengutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional tahun 2017, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menentukan enam literasi dasar yang perlu dipahami yaitu literasi baca dan tulis, literasi numerasi, literasi finansial, literasi budaya, dan literasi digital.

Literasi digital menjadi salah satu literasi yang perlu diketahui. Sedangkan literasi digital, dikutip dari Kemdikbud sendiri adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring perkembangan teknologi yang canggih dan pesat di masa pandemi, literasi digital sangat dibutuhkan mengingat pengguna gawai di masyarakat Indonesia juga meningkat. Namun sayangnya, tingginya penggunaan gawai tidak sebanding dengan pemahaman literasi digital yang dimiliki masyarakat.

Berdasarkan survei yang dilakukan Ditjen Aptika bersama katadata di tahun 2020, Indonesia masih berada pada angka 3,47 dari skala 4. Hal tersebut merefleksikan bahwa angka literasi digital Indonesia masih berada di bawah tingkatan baik.

Anak-anak sekolah di masa pandemi atau sebut saja sebagai generasi pandemi ini harus sungguh-sungguh diawasi secara ekstra. Tidak hanya diawasi, namun orang tua maupun keluarga harus mendampingi mereka dalam menggunakan gawai. Karena, dekatnya anak-anak dengan gawai maupun media sosial rentan terhadap pengaruh negatif. Periksa apakah situs yang diakses bermanfaat atau justru merusak. Karena melalui gawai dan adanya koneksi internet membuat anak-anak dapat mengakses apapun.

Pengaruh negatif penggunaan gawai berlebihan selain berdampak pada kesehatan mata juga membuat anak lebih cepat mudah stres serta mengakibatkan anak kecanduan untuk terus bermain gawai. Tidak jarang gawai saat ini bisa menjadi penyebab gangguan jiwa akut pada anak. Rumah Sakit di beberapa daerah sudah menangani ratusan anak yang kecanduan gawai. Di sinilah seharusnya pola pikir orang tua harus berubah yang awalnya menyerahkan tanggung jawab mendidik anaknya kepada sekolah sebagai pihak lain, kembali kepada pihak yang bertanggung jawab penuh yaitu orang tua.

Menurut Rina Purwaningsih dari detik.com, membiasakan untuk selalu berdiskusi, mengajak bicara anak dan -yang paling penting- mendengarkan pendapat anak akan lebih baik dimulai saat anak masih belia. Tetapi memulainya saat ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sehingga dalam pembelajaran daring yang memanfaatkan gawai, dapat berjalan semestinya. Hal tersebut tentu tercapai jika orang tua ikut serta memberikan pemahaman literasi digital serta selalu bertukar pikiran dengan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *