Kisah Seorang Anak Yatim yang Sukses Meraih Cita – citanya dipandemi Covid-19

Di perdesaan terpecil,  ada seorang anak yatim bernama Neka. Neka tinggal bersama dengan ibunya di sebuah gubuk dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu.  Ibunya Neka hanya bekerja sebagai buruh cuci panggilan,  sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia karena kecelakaan kerja.

         Setelah kepergian ayah Neka, Kondisi keuangan keluarganya semakin memburuk. Uang yang diperoleh ibunya selama bekerja sudah tidak bisa mencukupi biaya sekolahnya.  Akan tetapi,  hal itu tidak membuat Neka berputus asa untuk terus belajar.  Di samping dia belajar,  dia juga menyempatkan waktu luangnya untuk membantu ibunya mencari uang dengan berjualan pisang goreng.

        Setiap pulang sekolah, Neka berkeliling desa untuk menjajakan pisang gorengnya ke semua orang yang dia temui di jalan. Meskipun hasil jualan dari pisang gorengnya hanya sedikit,  Neka tetap bersyukur dan menyisihkan uangnya untuk bersedekah.

       Suatu hari,  Neka mendengar kabar buruk bahwa ada beberapa orang di desanya terkena virus corona.  Dengan adanya kabar buruk tersebut,  Neka  dan teman kuliahnya tidak bisa lagi belajar di kampus. Mereka harus belajar secara online di rumah menggunakan gadget. Neka yang tidak mempunyai gadget harus meminjam itu ke temannya. Akan tetapi,  teman kuliahnya Neka tidak ingin memijamkan gadgetnya ke Neka karena takut  tertular  virus corona. Neka pun sedih dan bingung karena dia tidak bisa mengakses materi dan tugas kuliah yang diberikan oleh dosennya. Walaupun begitu, Neka tetap semangat untuk belajar sambil berjualan pisang goreng. Dia juga selalu mendapat dorongan semangat dari ibunya untuk tidak berhenti berputus asa agar dapat mencapai cita – citanya sebagai dokter.

         Hari demi hari,  Neka merasa bersyukur dan bahagia karena hasil penjualan dari pisang gorengnya meningkat. Dia pun memutuskan untuk menggunakan sebagian uangnya untuk membeli gadget. Sesampainya di konter, dia mencari gadget yang harganya murah dan bisa digunakan untuk kebutuhan kuliahnya. Setelah mendapatkan gadget, dia pun pulang ke rumah. Namun di tengah perjalanan, Neka bertemu dengan 2 (dua) orang pencuri  yang ingin mengambil paksa gadget dari tangannya. Dia pun berusaha melawan pencuri itu dengan tangan kosong. Hingga akhirnya, tangan dia terluka karena tergores pisau dari pencuri itu. Pencuri itu pun berhasil merebut gadget miliknya.

      Setelah pencuri itu pergi, Neka melanjutkan perjalanan pulang dengan tangan  terluka dan perasaan sedih. Namun tiba – tiba  teman SMA nya dulu yang bernama Dian menghampirinya. Dia  terkejut  dengan kedatangan Dian. Dia juga merasa bahagia dapat bertemu dengan Dian, karena selama bertahun tahun mereka tidak bertemu. Dian yang datang menemui Neka bergegas membantu mengobati luka tangannya.

       Setelah  selesai mengobati tangan Neka,  Dian bertanya kepada Neka atas apa yang dialami Neka tadi.  Neka pun bercerita bahwa dirinya habis melawan 2 (dua) pencuri yang  mengambil gadgetnya. Neka juga bercerita bahwa gadget itu sangat berarti buat dirinya, karena dia hanya bisa  mengakses materi  dan mengerjakan tugas kuliah melalui gadget itu. Setelah mendengar Neka bercerita, Dian pun menawarkan pekerjaan untuk Neka agar dia bisa membeli gadget barunya lagi. Neka pun menerima tawaran pekerjaan dari Dian.

      Satu bulan kemudian, Neka mendapatkan upah dari pekerjaannya itu. Dari upahnya tersebut, dia berencana untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli gadget.  Setelah uang nya terkumpul, dia pun pergi membeli gadget baru. Hingga akhirnya dia pun bisa mengikuti kuliah online.

4 tahun kemudian,  Neka berhasil menyelesaikan kuliah dengan predikat cumlaude di kampusnya. Selain mendapatkan predikat cumlaude, dia juga mendapatkan beasiswa S2 kedokteran di  universitas ternama di indonesia. Ibunya pun bahagia dengan keberhasilan anaknya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *