Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara: Tanamkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika Melalui Kompetisi Karya

Oleh: Retno Purwa

PRESS RELEASE

Kampanye budaya membaca sedang ramai diperbincangkan di Indonesia. Banyak komunitas baca, taman baca dan kegiatan literasi yang bermunculan guna mensukseskan peningkatan minat baca generasi muda. Tidak mau ketinggalan, Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) yang berdiri sejak tahun 2015 pun ikut andil dalam mengkampanyekan budaya membaca, bahkan sampai ke daerah-daerah yang sulit mendapatkan akses bacaan.

Komunitas ini didirikan oleh seorang pemuda kelahiran Lamongan, Jawa Timur, bernama Imam Arifa’illah Syaiful Huda. Memasuki tahun keduanya berdiri, Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara sudah tersebar di 12 kota di 6 propinsi. Regional, sebutan untuk cabang Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara berlokasi di Malang, Lamongan, Jember, Pasuruan, Madiun, Kediri, Probolinggo, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Medan, dan Palu. Tidak hanya memotivasi para remaja untuk gemar membaca, GPAN juga mendorong siswa/siswi usia sekolah untuk berlatih menuliskan karya. Setelah sukses dengan Lomba Esai dan Fotografi di peringatan HUT pertamanya 25 April 2016, kali ini GPAN kembali mengadakan Lomba Cipta Puisi bertajuk Bhinneka Tunggal Ika.

Tema Bhinneka Tunggal Ika dipilih untuk menanamkan kembali rasa cinta para pemuda terhadap keberagaman yang ada di Indonesia. Dengan menuangkan rasa cinta terhadap keberagaman dalam sebuah karya, diharapkan pesan persatuan yang terkandung di dalam karya puisi para peserta akan lebih mudah melekat di hati penulis maupun pembaca nantinya.

Berbeda dengan event lomba sebelumnya yang terbuka untuk kategori umum, Lomba Cipta Puisi ini hanya diperuntukkan bagi siswa/siswi SMA sederajat. Bukan tanpa alasan, pengkhususan kategori ini dimaksudkan agar lebih banyak mewadahi karya-karya siswa SMA dalam bentuk buku yang terpisah dari penulis-penulis senior yang karyanya sudah banyak dibukukan. Oleh karena itu, dalam event Lomba Cipta Puisi kali ini Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara mengajak seluruh guru Bahasa Indonesia untuk turut serta mendukung kesuksesan pelaksanaan lomba.

Peran guru Bahasa Indonesia di sini sangat penting, mengingat puisi menjadi salah satu materi yang harus dikuasai oleh para siswa di tingkat SMA. Guru dapat memberikan motivasi dan juga bimbingan bagi siswanya yang ingin mengikuti lomba. Ini bisa dijadikan ajang praktik langsung pembuatan puisi oleh para siswa yang berpotensi untuk dibaca banyak orang setelah dibukukan. Selain itu, sebagai pembimbing mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, guru dapat juga berperan dalam mengoordinir pengiriman karya secara kolektif untuk beberapa siswanya sekaligus. Hal ini mengantisipasi kondisi bahwa tidak semua siswa memiliki akses yang mudah untuk berinteraksi dengan internet, khususnya untuk siswa dari daerah 3T.

Harapan dari penyelenggara, Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara semakin dekat dengan kalangan muda Indonesia untuk sama-sama mengkampanyekan budaya membaca dan berkarya demi masa depan Indonesia yang lebih bersinar.

Info Lomba Cipta Puisi Bhinneka Tunggal Ika dapat diakses di http://gpan.or.id/cipta-puisi/
.
.
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *