[Cerpen] Kreatif, berarti Memiliki Kemampuan untuk Menciptakan


Kilas balik ke masa lalu, tepatnya ditahun 2014. Kelas tiga menengah pertama, sekarang bisa disebut kelas sembilan. Kembali ke masa-masa kreatif, masih berimajinasi, masih berani unjuk gigi dan pertama kali berani menampilkan karya-karya hasil sendiri, salah satunya puisi.

Pada hari itu tepatnya, anggaplah hari Senin. Katanya, Senin hari yang paling identik dengan kesuraman. Bukankah begitu?

Suasana hiruk-pikuk di kelas saat jam istirahat. Di pojok belakang sebelah kiri, diisi empat siswa perempuan lainnya, menikmati seplastik bakso dari kantin. Di kelas samping ada laki-laki sebaya yang dulu sempat menjadi pujaan hati, sedang bercengkrama dengan temannya. Mungkin lebih tepat menggosip dengan rekannya. Tepat dari balik pintu, aku sang anak unjuk gigi masuk. Segera menyiapkan sesuatu. Bukan sesuatu yang spesial, hanya sebuah pekerjaan rumah.

Lonceng berbunyi menandakan semua harus belajar. Bukan apa, hanya supaya lebih pintar. Setidaknya itu dulu keyakinanku. Begitu semangatnya masuk kelas, sebab hari ini aku ingin menampilkan karyaku. Karya yang telah aku buat sejak seminggu yang lalu begitu ibu dan bapak guru memberitahuku. Semua duduk rapi, itu hal terbaik yang dapat kami lakukan untuk menghargai keberadaan beliau yang telah berdiri di depan.

Dipanggil kemudian semua siswa satu persatu, hingga tiba giliranku tampil dihadapan teman sekelas dan ibu guru. Sebuah puisi ciptaan sendiri yang saat ini aku lupa dengan judulnya. Lantang kuteriakkan pada bait yang menggambarkan semangat. Lirih dan sedih pada bait yang sendu. Satu kelas terdiam termasuk beliau disebelahku. Mungkin aku sedikit sombong, tapi mereka sepertinya terkesima. Isi puisi tentang kisah cinta anak remaja yang aku ciptakan sendiri diperdengarkan pada kaum yang sedang beranjak dewasa.

Apresiasi datang dari beliau, Ibu guru. Setidaknya itulah anggapan yang aku tafsirkan dari pertanyaan beliau tentang siapa pembuat puisi itu. Beliau memimpin satu kelas untuk memberiku tepuk tangan. Sepertinya aku harus memakai helm untuk meredam kepala yang sebentar lagi membesar.

Sudah jadi aturan baru di sekolahku waktu itu untuk memberlakukan dua pengajar dalam satu kelas. Jadi selain ibu guru yang satu ini, ada guru lain yang sebenarnya mengajar, tetapi karena sesuatu halangan beliau telat masuk. Sistem satu ini mungkin dikira efektif, tapi sebenarnya tidak. Terlihat dari masa berlakunya di sekolahku yang hanya satu tahun ajaran. Lebih sering miskomunikasi antar guru daripada kerjasama mereka.

Bapak guru masuk sesaat tepuk tangan mulai berhenti. Dengan wajah tersenyum beliau bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat tepuk tangan sekeras itu. Posisiku masih di depan kelas dengan tersenyum. Beliau penasaran, disuruhnya aku mengulang penampilanku. Dengan kepercayaan diri penuh, aku terima tantangan pak guru. Kuulangi pertunjukanku berharap apresiasi lebih besar dari beliau.

Bait terakhir telah diselesaikan, pemirsa lagi-lagi terkesima. Aku puas. Bisa membacakan dua kali karyaku di depan mereka. Tapi sepertinya tidak dengan Bapak guru. Raut muka kesal seperti lebih familiar.

“Lain kali, kalau disuruh membaca pusi, puisinya karya orang yang sudah terbukti, Mbak.” ketus beliau.

“Silakan duduk kembali.” lanjutnya.

Aku terdiam, melangkah ke tempat duduk. Sepertinya tempat dudukku berada di Antartika, sedangkan aku di Kutub Utara. Rasanya jauh sekali. Memang aku duduk di belakang, tapi bukan itu. Ada rasa kesal bercampur rasa malu. Semua campur aduk tak menentu.

Termenung dikursi belakang. Masih teringat kata-kata Bapak guru. Respon beliau yang seratus delapan puluh derajat dari Ibu guru menyayat hati. Apa memang tidak boleh berkarya sebelum terbukti? Ataukah memang puisiku saja yang buruk? Ah, tentu tidak.

Saat pertama kali membaca semua mengapresiasi. Mungkin saja pendidikan di negeri ini belum memperbolehkan siswanya untuk berkreasi. Semua harus berdasarkan buku dan kurikulum yang berganti tiap tahun tak menentu. Ibaratnya, siswa baru datang dengan bentuk kotak, lingkaran, segitiga, trapesium dan bermacam bentuk lainnya. Namun, siswa keluar dengan bentuk kotak.

Fire and Ice
Some say the world will in fire
Some say in ice
From what I’ve tasted of desire
I bold with those who favor fire
Bit if it bad to perish twice
I think I know enough of hate
To say that for destruction ice
Is also great
And would suffice
Robert Frost

Karya Hilda Lathifah, anggota GPAN Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *