Cahaya di Serambi Makkah

posted in: Cerpen | 0

Seuntai harapan tekad yang arif dibalut oleh restu orang tua, pemuda berparas kulit Eropa, bermata cina, bermaksud untuk merantau ke Aceh. Ghafar, pemuda Semarang ini bersigap membawa tas ransel dan kopernya dari kamar, ke luar rumah untuk merantau.

“ Bu..Pak, Ghafar pamit, ya…doakan semoga lancar tugas di sana”.

“hati hati ya nak, jaga dirimu baik baik saat di Aceh, kami merestuimu.”Bu Zamilah mengelus elus pundaknya, sembari melirik suaminya.

“Ya Bu, Pak, insya Allah, doakan semoga bisa kembali ke Jawa dengan selamat.”

Pak Budiman pun segera memeluk  dan menepuk dengan sedikit keras pundak anaknya. “Nak, itu tanah mulia, tanah yang sangat suci, jadi jangan bertingkah seenaknya di sana.”

Bu Maesaroh, ibunya dengan derai air mata langsung menarik tangan, dan pundak  Ghafar untuk dipeluknya.“Nak, jika kamu khilaf, segeralah bertawakkal dan bertobat pada Allah.”

“ya, Bu..Pak, siap laksanakan..

***

Detik-detik  kepergian

Jarum jam di dinding ruang tamu rumah menunjukkan pukul 07.00 wib. “Assalamu’alaikum, Pak…Bu, saya berangkat”

“Wa’alaikum salam.”

Safitri tiba tiba datang dari dua rumah disamping kiri rumahnya, dan segera menawarkan jasa antar penumpang pada adek yang hendak merantau.

“Ghafar, yuk…mbak antar.”

“Mas Misbah, mana mbak? Kenapa mbak yang ngantar aku?”

“Mas itu ke pasar pagi buta, habis subuh, kebetulan lagi rame penjual, dek..,Udah, ayo naik.

“Iya, mbak.”Jawab Ghafar dengan halus.

Setelah sampai di terminal terboyo, Semarang. Perjalanan pun segera dimulai.

“makasih ya mbak, assalamu’alaikum.”Ghafar mengecup tangan Safitri dan berpamitan.

“Wa’alaikum salam.”

Ghafar mengambil bus rute arah Semarang – Surabaya, sebelum sampai di Aceh, karena harus berkumpul dulu dengan teman teman yang ke Aceh selama 1 tahun.

“Surabaya, mas, Surabaya…” lambaian tangan ke atas oleh kernet bus merk Indonesia itu pun langsung menyapa semangat keceriaan pandangan sipitnya.

“Iya, Mas, saya mau ke Terminal Surabaya.”

“naik, cah bagus…ayo naik lah ke bus ini, nanti akan sampai di Surabaya.”

Sekitar pukul 15.00 wib, akhirnya sampai di terminal Surabaya.Teman teman sudah menyambutnya di terminal dan segera beranjak bersama ke arah rute perjalanan selanjutnya. Bandara Juanda menjadi fokus selanjutnya, untuk segera bertemu dengan dosen pembimbing,  yang akan mengantarkannya ke Aceh.

Setelah sampai di bandara, dosen pun langsung memberikan tiket satu persatu pada semua peserta SM3T  yang hendak ke tanah rantau.“Ayo kumpul sini, cah bagus, dan cah ayu semua” Bu Hidayah menyambut mereka dengan bijak dan penuh kasih sayang.

Kalian sebentar lagi akan melaksanakan tugas negara, mengabdi dan mendidik di daerah tertinggal, terpencil, dan terdepan. Bukan di kota Acehnya, tapi di Aceh bagian pelosok. Gambaran daerah sana, nanti kalian berjumpa dengan warga beragam suku, bahasa, dan kebiasaan adat istiadat. Jadi, kalian harus bisa belajar dan berusaha untuk berbaur dengan warga sana, dan menjaga diri dengan baik. Jaga nama kalian di sana.

“Di sana ada orang Jawa, Bu?.”Ainun menyambung.

“iya, kebetulan kalian akan tinggal di daerah transmigran, cuma tetap bercampur dengan orang yang bukan asli Jawa, juga.”

Tiba-tiba bu dosen melirik wajah lesu Ghafar.“Kamu kenapa Ghafar?”

“Tidak apa apa, Bu. Cuma lapar aja, he,he…”

“Ghafar ini jujur banget…”Ali menepuk paha Ghafar.

Oh..ya sudah, kalian lihat ke ujung sana (Bu  Hidayah menunjuk ke arah asistennya yang baru datang dengan bungkusan  makanan). “Ayo, kita makan.”

“Siap Bu…sahut semuanya dengan serentak.”

Akhirnya pesan info singkat dilayangkan oleh petugas bandara, bahwa penumpang  Sriwijaya Air harap bersiap siap untuk masuk ke pesawat, karena akan berangkat.

Dua setengah jam kira kira perjalanan ke Sumatera, yang transit juga di bandara Batam sejenak. Kemudian dilanjutkan ke bandara internasional kuala namo, Medan, Sumatera.

***

Tanah Rantau

Setelah sampai di Medan, rute selanjutnya adalah ke Kabupaten Aceh Singkil.  Saat mendarat di Medan, rombongan sudah disambut dengan mobil travel. Di dalam mobil tak jauh berbeda dengan di dalam pesawat, karena kami disuguhi dengan panorama alam Indonesia yang sangat luar biasa indah, hijau dan asri serta membuat orang takjub akan kebesaran Ilahi.

Nyiurnya pohon kelapa melambai lambai di tepi pantai, perbukitan yang tampak jauh, namun terasa elok dipandang karena diringi oleh setianya tanaman keras. Burung merpati anggun mengepakkan sayapnya menemani burung yang lain berterbangan di bawah atap bumi.Birunya air laut yang mempesona mata, gaya ombak pasang surut yang menggugah mata hati untuk ingat akan perjalanan suratan takdir kehidupan.

“Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallahu Akbar.” Getaran lisan Ainun.

“hmm, heran tho Nun, aku mah sering muncak, biasa aja tho.”Ghafar sedikit mengejek.

“Kamu emangnya kagak suka apa, Far?”

Suka kok.

Terus kenapa kamu bilang githu, Far?

Ya, iya, bagus. Hmm…

“Wow… benar benar bagus, Indonesia banget.”teman yang lain bersahut sahutan memuji dan terheran heran dengan alam Sumatera, Indonesia.

“Kurang lebih kita akan sampai di lokasi sekitar besok pagi.”Pak Sopir travel tiba tiba mengagetkan kita saat terpesona oleh sihir indahnya alam Indonesia.

“Hmm….lumayan lama ya, Pak, semalaman di jalan..”sambung Ghafar.

“ Jadi kita akan bermalam di jalan, Pak sopir?”Ainun tak sabar ikut bicara.

“iya, kurang lebih, memang begitu.”

Hmm…gumam Ghafar.

“Santai, mas mbak guru, kita kan bisa tidur di mobil, tho…tenang saja.”Sambung Misbah.

“Kalau pengen hajat, misal buang air atau apa aja, tinggal bilang sama bapak sopir, nanti pasti dicariin.” Iwan menambahkan.

“iya, saya siap mengantarkan kalian ke manapun yang kalian inginkan.”balas Pak Sopir.

Semuanya pun terlihat sedikit hilang kecemasannya mampu  menghela nafas dengan tenang.“Alhamdulillah ya, di serambi Mekkah ini bertemu orang baik.”ucap Ainun.

“Hmm….iya, ustadzah Ainun…hu…hu.”Tukas Ghafar.

“ Amiin…” Ainun membalas dengan senyuman tipis nya.

Azan Asar menyelinap syahdu terdengar nan jauh di sepanjang jalan menuju ke Aceh Singkil, yang ikut mengiringi dan membasuh manis relung hati kami. Kami pun segera dikoordinir oleh Bu dosen untuk segera singgah di rumah makan terlebih dahulu.

“ Baiklah, mari sholat jama’ takhir dhuhur  dan asar.”Nasehat Bu Hidayah.

“ Iya, Bu..siap, laksanakan” Ucap Ainun dengan semangat.

Selesai Imashol, perjalanan pun dilanjutkan ke tempat penginapan dekat dinas pendidikan Kabupaten  Aceh Singkil. Selama perjalanan kami juga tak lupa untuk berhenti sejenak melaksanakan sholat maghrib dan isya’ di waktu maghrib (jama’ takdim), saat waktu menunjukkan pukul 18.30 wib. Waktu maghrib di Aceh berselang satu jam setelah waktu maghrib di Jawa. Waktu azan isya’, kira kira pukul 20.00 wib. Waktu azan dhuhur  subuh, pukul 04.30 wib. Waktu azan dhuhur, pukul 12.30 wib. Sedangkan untuk asar, pukul 16.00 wib.

Akhirnya kami pun sampai di tempat penginapan dengan selamat, dan esok hari nya setelah disambut oleh kepala dinas, kami segera diserahkan kepada kepala sekolah penempatan masing masing. Lalu, kami pun berpisah. Ada yang satu lokasi satu orang pengabdi, ada yang dua orang, ada juga yang lima orang. Ainun dan Ghafar, satu penempatan lokasi di Kecamatan Singkohor, tepatnya di SMA Negeri 1 Singkohor. Iwan dan Misbah di SMA Negeri 1 Kecamatan  Danau Paris.

Bu Hidayah pun segera melepas kepergian mereka dengan ucapan selamat dan doa.“ Kalian semua saya tinggal ya, semoga sehat selalu dan dapat berguna bagi sesama, salam MBMI (Maju bersama mencerdaskan Indonesia). Jaga diri kalian, dan jangan seenaknya sendiri, ini tanah mulia.”

“iya, Bu, pasti.” Balas Ainun.

Ghafar sedikit penasaran, dan akhirnya melayangkan pertanyaan pada Bu dosen.

“ Bu, kenapa dinamakan tanah serambi mekah yang juga menjadi tanah mulia?”

“Karena nama serambi mekah itu pemberian langsung dari Nabi Muhammad SAW, melalui penjaga makam beliau.”

Jadi begini, zaman dahulu kala, ada seorang penjaga makam Rosulullah, namanya Syeh Ismail. Pada suatu hari penjaga makam tersebut bermimpi kedatangan Rosulullah. Beliau berkata” wahai Syeh Ismail, bangunlah, dan ambil isi surat yang saya simpan di dalam ka’bah. Kemudian bawalah surat itu ke lima benua di dunia, maka dimana surat itu bisa dibaca di situlah letak Serambi Mekkah.”

Akhirnya Syeh Ismail pun berpetualang ke lima benua, saat itu berusia 20 tahun. Pertama yang didatangi adalah Benua Amerika, namun beliau tidak menemui orang yang bisa baca isi surat tersebut. Kedua ke Benua Afrika, hasilnya pun sama, kurang  beruntung. Ketiga ke Benua Eropa, juga sama. Lalu keempat Benua Australia, masih belum juga bertemu orang yang bisa baca surat tersebut. Akhirnya sampai di benua Asia, beliau singgah di sebuah samudera (sekarang Aceh). Syeh Ismail merasa lelah putus asa, karena beliau sudah berusia 100 tahun. Lalu beliau memutuskan untuk kembali saja ke Mekkah. Tiba tiba ada seorang pemuda yang menghentikan langkah beliau, dan bertanya maksud dan tujuan Syeh Ismail. Ternyata pemuda tersebut bisa membaca surat dari Rosulullah. Akhirnya letak daerah tersebut dinamakan dengan Serambi Mekkah sesuai pesan Rosulullah.

“Jadi begitu, tho, Bu”balas Ghafar.

“Subhanallah ya Bu” Ainun terheran heran mendengarkan cerita dari Bu Hidayah.

Perjalanan ke Kecamatan menghabiskan waktu dua jam lebih seperempat. Terasa amat jauh, karena disepanjang kanan kiri, kami tidak menemukan rumah, yang ada hanya kebun kelapa sawit. Imajinasi Ainun maupun Ghafar sudah sangat cemas mencekam.

“Far, rumahnya mana, ya..”

Iya iya, Nun, jangan jangan kita melewati sungai, nyebrang githu…”

“Alhamdulillah.” Ghafar dan Ainun pun bersyukur setelah melihat satu masjid di awal jalan masuk kampung. Dan kami pun sudah bisa bernafas dengan baik.

Kami disambut penuh hangat oleh warga Singkohor, sampai kami nyaman dan bahagia tinggal di Singkohor. Di sini kami bertemu dengan berbagai macam orang dengan bahasa, suku dan adat yang berbeda-beda. Ada suku Jawa dengan bahasa Jawa nya, suku sunda dengan bahasa sundanya, Suku Batak dengan bahasa bataknya, suku karo dengan bahasa karonya, suku Padang Pariaman dengan bahasa minangnya.

“Kalian tenang saja, sebagian besar penduduk Jawa, hanya kita pakai bahasa persatuan saat komunikasi.” Ucap Pak Kepala Sekolah memberi pandangan pada kami.”

“iya, Pak, bahasa persatuan berupa bahasa Indonesia.” Jawab Ghafar.

Setelah kurang lebih setengah tahun mengajar di SMA Negeri 1 Singkohor, Ghafar dengan hp android barunya mencoba bisnis online. Bisnis wirausaha yang digeluti Ghafar berupa kain dan baju batik Pekalongan. Kebetulan Ghafar dibantu pacarnya di Jawa untuk pengiriman barang dagangan ke Aceh Singkil. Sasaran Ghafar adalah warga sekitar yang  menyambut hari raya Idul Adha dan tahun baru masehi.

Al hasil, barang dagangan Ghafar laku keras. Ghafar pun makin senang, dan suka pegang hp ke mana mana. Hp androidnya menjadi kebanggaan baginya, sampai sampai tiada satu titik pun tanpa bawa hp. Maklum saja, sebelum punya hp android saat pertama kali sampai di Singkohor, sikap Ghafar cuek pada siapapun. Lebih baik dia memilih diam dan tidak memulai pembicaraan , sebelum disapa terlebih dahulu oleh orang lain. Bahkan pemuda ini lebih memilih memasak di rumah, buat makanan  daripada main ke tetangga. Namun, setelah ada hp baru, Ghafar jadi selalu bawa hp saat berbicara dengan siapapun yang ada di sekitarnya. Hubungan Ghafar dan Sintia, pacarnya pun makin mulus dan lengket karena bisnisnya berhasil. Tiba-tiba, Sintia mengirim pesan pada Ghafar, bahwa Ia akan liburan ke Berastagi. Daerah pariwisata pacuan kuda, destinasi kebun teh, pasar buah, bukit teletubbis yang berhadiah layang-layang, dan sebagainya.

“Yayangku Ghafar, aku mau ke Sumatera hari jum’at nanti, Berastagi dan Medan tepatnya.”

“Liburan tho, sama siapa?”Tanya Ghafar penasaran.

“Sendiri aja, sambil jenguk saudara yang di sana, mau ikut liburan kagak?”

“Em, Ok,  biar aku aja yang jemput kamu di sana.”

“ok, yayangku sayang.” Ucap Sintia.

Kebetulan sms itu hari kamis, dan Ghafar ada jam kosong mengajar sampai jum’at. Akhirnya Ghafar langsung menelpon Kepala sekolah, meminta izin untuk ke Berastagi.

Kepala sekolah mengizinkan, dan memberi tambahan liburannya sampai hari minggu. Karena hari sabtu anak anak libur, karena tanggal merah.

Akhirnya mereka bertemu di Berastagi, selalu bersama dan bersenang-senang menikmati indahnya berwisata. Berfoto selfie bersama, bergandengan tangan, bercengkerama mesra, bergendong gendongan dan makan bersama. Serasa dunia saat itu hanya milik mereka berdua, itulah suasana hati mereka bagai syair para pujangga cinta. Kemudian tanpa pikir panjang foto kemesraan mereka pun di upload di media sosial.

“Yayangku, aku pulang ke Jawa sabtu sore.”kata Sintia

“Iya, beb…hati-hati.”

“Tentu, makasih.”

Para guru  yang di kantor keesokan hari nya, saat hari ngajar aktif, senin, sontak ramai dan senyam senyum penuh dengan pertanyaan pada Ghafar.

“cie, yang habis jalan jalan, sama siapa Pak?” Ucap Bu Atun.

“He,he…”. Balas Ghafar.

Guru  lain ada yang kurang suka.  “Hati hati di tanah ini, ya Pak.” sindir Bu mardiyah.

Ghafar  cuek dengan perkataan itu, sambil lihat gambar di hpnya dan bergumam dalam hati.”Ibu itu seperti tidak pernah muda saja.”

Selang setelah beberapa hari kepulangan Sintia ke Jawa, hubungan komunikasi antara keduanya tidak pernah berhenti, dari sms, telpon dan video call.

Akhirnya pada suatu ketika saat Ghafar mengisi air bak mandi, tiba tiba hp yang ada di himpit rapat di telinga kanannya terjatuh ke dalam bak mandi. Hp nya rusak parah, dan mati.  Bisnisnya pun berhenti, dan Ghafar bingung. Sedih, menyesal, dan ingin  menyendiri terus. Tiba-tiba Pak Rahmadi, Guru BK di sekolah datang ke rumah Ghafar dan mengajaknya untuk ikut pengajian di masjid. Dalam pengajian itu ustad menjelaskan tentang firman Allah dalam Surat Al- An’am ayat 32, yang artinya:” Dan sungguh kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu berfikir?”

Kemudian dalam ayat lain Allah juga berfirman, yang artinya: Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Q.S. Al –An’am ayat 48). Pak Ustad Kamraini menjelaskan: Jama’ah rahimakumullah, Kita hidup di dunia ini hanya sementara, dan kehidupan akhirat itu lebih baik. Maka ketika kita mendapatkan nikmat berlebih dari Allah, hendaknya kita bersyukur. Bersabar dan bersedekah. Ingat pada Allah, baik di kala susah, atau di kala senang. Saat terkena musibah, maka segeralah kita untuk bertobat kepada Nya. Insya Allah, kita semua semoga istiqomah di jalan yang lurus dan selalu bisa bertaqwa pada Allah SWT.

Ghafar pun mulai sadar bahwa dia sudah lalai dari ajaran Islam dan jauh dari Allah. Ghafar hanya pasrah pada Allah dan selalu minta petunjuk Nya. Ghafar mulai menyadari kalau selama ini dia sudah melupakan nasehat orang tua, dosen dan orang di sekitarnya. Lalu dia pun membeli hp biasa, untuk sms dan telpon saja. Setelah kejadian itu, Ghafar mulai berubah. Sering  berpuasa utuk menjaga nafsunya, peduli sama orang, dan mengurangi komunikasi dengan Sintia. “ Maaf, Sintia, saya ingin fokus dan sendiri, karena saya sedang berpuasa.”

Setelah itu Sintia pun tidak lagi sms Ghafar, dan memilih untuk fokus dagang pakaian di pasar. “Kamu masih lama waktunya untuk berjuang meniti karir, maka berjuangnya Ghafar.” Gumam Sintia dalam hati.

BIODATA

Penulis: Nur Hafidhoh, alumni Unnes, Pendidikan Geografi S1, lulus tahun 2014. Lahir tanggal 7 Nopember 1991.

Alamat: Getassrabi modinan, RT:2, RW:2, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Kode pos.59354.

No Hp: 085642726397

Fb: Geo Hafidhoh Kudus atau Nur Hafidhoh

Aktif dalam dunia jurnalistik semenjak kelas VIII SMP, koordinator jurnalistik OSIS MA NU Al hidayah 2008-2009. Dan masih berlanjut ke  perguruan tinggi sebagai reporter di Badan Pers Mahasiswa Unnes tahun 2011-2012, lalu berlanjut sebagai ketua Badan Pers Mahasiswa Geografi tahun 2012-2013. Profesi guru geografi.

Tulisan yang dimuat: cerita tentang SM3T Aceh Singkil di website pengetahuan.com.

Kemudian menulis tentang karya karya , artikel dan lain sebagainya di majalah tahunan Suara Al hidayah milik tim redaksi anak anak MA AL Hidayah, Kudus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *