CERPEN: Bisakah, Bersama Lagi?

posted in: Cerpen, GPAN Regional Jogja | 0

Oleh: Rizky Anggit M. Olief F. K.

Tepat pukul 07.00 pagi kegiatan belajar mengajar dimulai, dimulai dengan doa kemudian ibu guru menanyakan yang tidak hadir. Kutengok kanan-kiri-depan-belakang, ada satu kursi yang kosong. Ternyata benar firasatku. Dia rupanya tidak masuk hari ini. Kemudian aku melihat hpku, tak ada satupun pesan dari dia hari ini. “Apa yang terjadi dengannya?” Tanyaku dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

“Assalamu’alaikum!” Teriak seorang lelaki paruh baya.

“Wa’alaikumussalam. Maaf, kalau boleh tahu ada keperluan apa Bapak datang ke sini? Tanya Ibu guru

“Ini Bu, berhubung saya tidak menemukan guru piket yang di depan gerbang, saya pergi ke kelas ini untuk mengantarkan surat sakit anak saya.” Kata lelaki itu dengan wajah serius.

“Oh iya, Pak. Ayahnya Yusuf, ya? Memangnya Yusuf sakit apa, Pak? Kok tidak biasanya Yusuf tidak masuk.” Tanya Ibu guru keheranan.

“Sakit demam, Bu. Saya juga heran. Ya minta doanya, Bu, semoga lekas sembuh. Maaf  ini saya sekalian mau pamit pulang.” Jawab ayah Yusuf dengan wajah sedih.

“Iya, Pak. Aaamiin.”  Kata Ibu guru dengan penuh harapan.

Setelah ayah Yusuf  meninggalkan kelas, Ibu guru membuka surat sakit Yusuf. Terlihat wajah Ibu guru kebingungan, tetapi kemudian surat diletakan di meja dan beliau melanjutkan materi pagi itu. Aku masih penasaran dengan keadaan Yusuf. Apakah dia hanya sakit demam atau sakit yang lain? Kemudian langsung kutengok lagi hpku dan ternyata ada sebuah pesan dari Yusuf:

“Kirana, maafkan aku yang sering mengecewakanmu. Maaf apabila sikapku sering membuatmu kecewa. Aku tahu.. aku mencintaimu, mengagumimu, tapi apalah daya.. aku tidak bisa memilikimu dan aku sering membuat jengkel ketika di kelas. Aku selalu mengganggumu, aku sering sms tak jelas kepadamu, aku sering mengusik ketika kamu belajar di perpus.. Kirana, maafkan aku. Dan kini aku sedang sakit. Mungkin selama 1 minggu aku tak bisa bertemu denganmu, melihat senyum indahmu, melihat kamu tertawa bahagia. Kirana, semangat belajar ya. Pertahankan prestasimu, jangan mau dikalahkan olehku, hehe. Doakan aku semoga bisa sembuh dan bisa bersamamu lagi, hehe (ngarep dikit). Dan mungkin ini sms yang bisa aku tuliskan. Sepertinya kamu penasaran akan keadaanku, percayalah ketika Yang Maha Kuasa menghendaki, maka kita akan bertemu lagi. Tetapi jika tidak.. semoga kita dipertemukan di surga.. Aamiin.”

Sms dari Yusuf membuatku terharu, sedih dan tidak bisa menahan air mataku untuk menetes. “Ya Allah, sembuhkan Yusuf. Aku tak mau berpisah dengan Yusuf, walaupun Yusuf pernah menyatakan perasaannya kepadaku kemudian aku belum memberikan jawaban, tetapi aku sebetulnya juga mengaguminya. Hanya saja, aku tidak boleh pacaran. Ya Allah, semoga Yusuf lekas sembuh. Aamiin..”

“Aamiin.. Aku tahu sahabat, kamu begitu solihah. Yang sabar, ya.. Memang hidup itu penuh kenangan, penuh tangis-tawa.. tapi percayalah suatu saat akan indah pada akhirnya.” Kata Karin menyemangatiku.

“Iya, aamiin.. Kamu mendengar semua doaku tadi? Mengetahui aku dan Yusuf sebenarnya ada sesuatu? Dan kamu tahu semuanya kah, Karin?” Tanyaku dengan kaget.

“Iya, tahu. Aku kan sahabatmu. Walaupun kamu tidak pernah bercerita, tetapi aku memahamimu.” Jawab Karin.

“Terimakasih sahabatku, kamu selalu memahami keadaanku.” Ucapku.

“Iya Kirana. Udah, jangan sedih.. nanti kita lihat surat yang di atas meja setelah pelajaran ini.” Kata Karin kepadaku.

“Baiklah, Karin.” Ucapku.

Pagi yang mendung, suasana tidak seperti biasanya. Ibu guru yang biasanya ceria, hari ini kelihatan sedih. Entah karena Yusuf yang biasanya maju mengerjakan soal hari ini tidak terlihat atau ada masalah lain. Ibu guru memang menyukai Yusuf karena kecerdasan dan kebaikan hatinya. Ibu guru terus menjelaskan materi elektronika mengenai Bab Kemagnetan. Tiba-tiba sekilas aku mendengar,

… Jika kutub positif bertemu kutub negatif maka akan saling tarik-menarik. Sebaliknya jika kutub positif bertemu dengan kutub positif akan tolak-menolak.

Oh Ibu guru, mengapa engkau membuat aku semakin sedih dengan materi pagi ini. Perasaan kacau, ditambah galau. Jika materi tersebut dikaitkan dengan perasaan, menyentuh sekali.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat pagi itu. Waktu untuk mapel Elektronika telah selesai. Ibu guru menutup pelajaran pagi itu dan meninggalkan kelas. Akupun segera mengambil surat sakit Yusuf dan membacanya. Terlihat tulisan tidak masuk benar 1 minggu, tetapi di surat itu tertulis sakitnya karena kecelakaan. Aku semakin sedih dan tak mengerti, tetapi aku berusaha untuk tabah. Aku segera mengambil hp dan membalas sms dari Yusuf yang belum sempat aku balas.

“Yusuf, kamu tidak bersalah. Aku tahu kamu perhatian kepadaku dan aku sangat berterima kasih karena kamu selalu menjagaku ketika di sekolah. Tapi, kini kamu sedang berbaring dan merasakan sakit. Yusuf, aku selalu mendoakan yang baik untukmu. Kamu baru mengalami cobaan dari Yang Maha Kuasa. Tetapi ingatlah semua itu diberikan karena Allah sangat sayang kepadamu. Yusuf terus berpikir positif ya, jangan lupa selalu berdoa kepada Sang Pencipta dan makan yang teratur. Yusuf maafkan aku yang belum bisa menjengukmu. Aku belum siap melihat kamu berbaring sakit. Tetapi jangan khawatir, dimanapun dan kapanpun aku akan selalu berdoa untukmu. Cepat sembuh ya, kita pasti bertemu dan aku akan memberi jawaban atas perasaanmu yang telah kamu ungkapkan seminggu yang lalu.”

Berselang 15  menit, kemudian ada sms lagi dari Yusuf,

Aku tak mengerti dengan semua ini, Kirana. Aku akan sabar menerima semua ini. Terimakasih atas doamu. Semua begitu cepat. Menit lalu aku merasakan tengah berada di alam yang berbeda. Di sana aku berjumpa denganmu dan ketika itu kamu hanya tersenyum kepadaku kemudian datang kedua orang tuamu yang mengajak kamu pergi. Apakah arti mimpiku tadi, Kirana? Mungkin memang kita harus berpisah Kirana. Kini keadaanku berbeda, aku hanya bisa mengingat memori beberapa saja. Entahlah Kirana, apa karena sakit menjadikan aku pelupa atau karena sesuatu. Tetapi alhamdulillah aku masih sedikit mengingatmu dari buku diaryku.

Ketika aku membaca sms dari Yusuf, ada sms lagi tetapi aku tidak mengenal nomornya.

Nak Kirana, tolong kalau bisa datang sekarang ya ke RS. Medika. Yusuf dirawat di ruang 10 A lantai 1. Ada yang perlu Yusuf sampaikan. Yusuf mau sms nak Kirana tetapi sudah tidak bisa karena merasakan sakit di tangannya.

Dari ayah Yusuf: Ahmad  

Aku tidak bisa menahan kesedihan. Lantas aku segera memberi tahu Karin untuk memohonkan izin mapel Fisika karena aku akan pergi ke rumah sakit menjenguk Yusuf atas permintaannya. Setelah itu aku pergi menuju RS. Medika yang lokasinya hanya 10 menit dari Mts Al-Hidayah.

“Assalamu’alaikum..” Ucapku.

“Wa’alaikumussalam. Sini, Nak Kirana. Ada yang perlu Yusuf sampaikan.” Jawab Pak Ahmad.

Kemudian, Yusuf mengatakan sesuatu kepadaku.

“Kirana, kamu jangan nangis.. aku tidak apa-apa. Hanya saja aku ingin berbicara sedikit kepadamu, karena perasaanku mengatakan kita akan berpisah selamanya. Kirana, langsung saja ya. Aku telah mengagumimu sejak kelas VII. Aku mengenalmu dengan baik tapi aku baru berani menyatakan perasaanku di kelas IX ini. Memang kita masih kecil dan tidak sepantasnya berbicara soal cinta. Tetapi.. ..

“Yusufff… tetapi apa? Ayo bicara lagi. Ya Allah..tolonglah Yusuf, ya Allah..”

“Tetapi, aku mendengar dari ucapan ayahmu ke ayahku waktu kelas VII. Sebetulnya kita dijodohkan, Kirana. Dan kamu dilarang untuk berpacaran karena nantinya kita akan di ta’arufkan. Di sisi lain ayahmu dan ayahku tidak saling mengenal siapa kamu dan siapa aku… dan di sini aku akan mengungkapkan semuanya. Jika memang Allah mengizinkan kita bersama, maka kita akan selamanya bersama. Tetapi keadaannya sekarang berbeda. Kini aku merasakan sakit yang luar biasa seperti tidak sanggup lagi bertahan. Aku hanya bisa berpesan, janganlah kamu bersedih atau menangisiku. Soal  jawaban, sudah tak perlu lagi karena itu hanya mengganggu dirimu. Tetaplah kejar cita-citamu. Jangan seperti sebelumnya, yang juara 1 selalu aku. Kamu harus menjadi perempuan solihah dimanapun dan kapanpun. Mungkin kini aku sudah tidak bisa menjagamu lagi, tetapi masih ada Allah yang selalu melindungimu. Kirana.. aku bersyukur bisa mengenalmu.”

“Yusuf, aku tahu .. a..k..u.. yang bersalah. Aku selalu cuek terhadapmu. Tetapi ada hal yang belum kamu tahu. Yusuf, bertahanlah, aku mau berta’aruf denganmu. Aku mengenalmu dengan baik. Walaupun aku baru menyadari perasaan kagum terhadapmu saat kelas VIII tetapi aku yakin perasaanku tidak salah. Kamu itu soleh, ternyata. Dulu aku begitu karena aku ingin menjaga. Aku anak pondok, seharusnya belum mengenal soal cinta. Tetapi kini keadaan berbeda dan di sini aku juga akan menyampaikan semua. Yusuf, setiap kali aku berdoa aku selalu memohon agar cintaku terhadap Allah lebih besar daripada terhadapmu. Aku tidak mau menduakan Allah, dan aku selalu mendoakan keselamatanmu karena aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadapmu. Dalam keheningan malam, aku selalu terbayang wajah alimmu. Yusuf, bertahanlah untukku.. Allah akan menolong orang-orang soleh. Yusuf, kuatlah..”

“K..i..r..a..n..a, B..a..p..a..k, I…b..u.. maafkan a.. k.u,”

“Dokter! Tolong, Dok!”

“Iya, Pak. Bapak, Ibu dan Adik silahkan keluar dulu.”

Dokter segera memeriksa Yusuf. Aku semakin sedih. “Ya Allah, tolong sembuhkanlah Yusuf. Yusuf anak yang soleh dan baik, jangan Engkau biarkan Yusuf meninggalkanku dan keluarganya, ya Allah.” Ucapku dengan lirih. Tak hentinya aku membacakan Al-Fatihah untuk Yusuf. Dokter masih di dalam ruangan dan belum juga keluar. Aku yakin semua akan baik-baik saja.

Kemudian, selang beberapa menit dokter keluar dari ruangan.

“Alhamdulillah, Yusuf baik-baik saja. Sekarang, ia masih dalam pengaruh obat. Sebetulnya keadaannya baik, tapi mungkin yang dirasakan Yusuf akan seperti mati rasa. Kita tunggu 10 menit, nanti ia akan sadar kembali.” Kata dokter yang memeriksa Yusuf.

“Alhamdulillah, ya Allah. Engkau menjawab doaku.”

Setelah 10 menit, aku, ayah dan ibu Yusuf masuk ke dalam ruangan lagi. Aku  berdiri di samping Yusuf sementara ayah dan ibu Yusuf duduk di kursi. Tak lama kemudian Yusuf membuka mata.

“Yusuf! Alhamdulillah, kamu masih diberikan kesempatan oleh Allah. Kamu harus kuat, ya. Kamu jangan buat aku sedih. Cepat sembuh.” Ucapku.

“Iya, Kirana. Maafkan aku yang membuat kamu, ayah dan ibu gelisah dengan keadaanku. Terima kasih berkat doa kalian aku bisa sadar kembali. Sepertinya, memang kita ditakdirkan untuk bersama walaupun tidak berpacaran dan hanya bersahabat. Yang penting kita saling menjaga. Menjaga keimanan dan ketaqwaan kita masing-masing.” Ucap Yusuf dengan senyuman.

“Iya, Yusuf.” Akupun tersenyum bahagia. Allah Maha Tahu. Aku yakin Allah akan menjawab doa-doaku. “Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat dan karuniamu bahkan pertolongan-Mu untuk hari ini. Hamba akan selalu bersyukur terhadap-Mu.”
.
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *